Rezim Suriah Segera Kuasai Ghouta
Jum'at, 23 Maret 2018 - 14:30 WIB
Rezim Suriah Segera Kuasai Ghouta
A
A
A
BEIRUT - Pemerintah Suriah segera menghentikan perlawanan pemberontak di Ghouta Timur saat warga sipil mulai keluar dari wilayah itu. Kota itu terus dihujani bom, kemarin, dan pemberontak bersiap menyerahkan diri.
Serangan militer Suriah ke Ghouta itu menjadi salah satu yang paling intensif dalam perang di Suriah. Operasi militer di Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.500 orang. Saksi mata Reuters menyatakan 15 bus dikemudikan ke Kota Harasta untuk mengangkut para pejuang dan keluarganya menuju wilayah oposisi di barat laut Suriah dalam kesepakatan yang dimediasi Rusia. Adapun Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menjelaskan, lebih dari 4.000 orang melarikan diri dari Kota Douma sejak Rabu (21/3/2018) dengan melintasi wilayah yang dikuasai pemerintah.
Keputusan kelompok Ahrar al-Sham untuk menyerahkan Harasta menjadikan hanya Douma dan wilayah pemberontak lain di Ghouta Timur, termasuk Kota Jobar, Ein Terma, Arbin, dan Zamalka yang masih dikuasai oposisi. Semua wilayah itu masih menjadi basis oposisi dekat ibu kota Suriah, Damaskus. Kemenangan pasukan rezim itu menjadi hadiah terbesar bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang melawan pemberontak sejak direbutnya Aleppo akhir 2016.
"Serangan udara masih dilancarkan di beberapa wilayah Ghouta Timur kemarin pagi, termasuk Arbin dan Zamalka, yang menewaskan 19 orang," ungkap laporan SOHR. Pejabat militer yang diwawancarai televisi mendesak pemberontak yang belum membuat kesepakatan agar segera keluar dari wilayah Ghouta. "Kematian datang padamu jika kamu tidak menyerah," papar pernyataan SOHR.
Pada akhir pekan lalu, Assad ke wilayah pertempuran di Ghouta Timur untuk menunjukkan bahwa dia dalam posisi unggul dalam perang itu. Kesepakatan untuk menyerahkan Harasta merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemberontak Ghouta Timur dan dimulai kemarin dengan pertukaran tahanan.
Saat wawancara dengan televisi Suriah, seorang tentara Suriah yang dibebaskan pemberontak tampak menangis dan berterima kasih kepada Tuhan dan tentara yang membebaskannya. Saksi mata Reuters di perlintasan dengan Harasta menyatakan tentara telah memindahkan penghalang dari garis depan lama di jalan menuju kota agar bus dapat melintas.
Laman Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan tayangan langsung dari titik perlintasan al- Wafideen dari Douma ke wilayah pemerintah. Selama periode beberapa menit, tayangan itu menunjukkan puluhan orang dalam kelompok kecil datang dan berjalan di sepanjang jalan melintasi tentara bersenjata. Beberapa orang membawa barang miliknya dan beberapa orang lainnya membawa anak kecil atau mendorong kereta bayi.
Douma menjadi salah satu wilayah paling padat penduduk di Ghouta Timur dan selama lebih dari sepekan dikepung oleh pemerintah. Kelompok pemberontak Jais al-Islam menguasai kota itu dan bertekad mempertahankannya setelah sebulan serangan pemerintah.
SOHR menyatakan warga sipil meninggalkan wilayah itu sesuai kesepakatan antara oposisi dan Rusia. Pemerintah Suriah menuduh pemberontak di Ghouta Timur menghalangi warga sipil mengungsi. Mereka menyatakan serangan ke Ghouta Timur untuk mengakhiri kontrol militan di wilayah tersebut.
Rezim Suriah juga menyatakan operasi militer itu untuk menghentikan aksi pemberontak yang sering menyerang Damaskus dan wilayah dekatnya. Pada Selasa (20/3/2018), satu roket mengenai pasar di kota yang dikuasai pemerintah hingga menewaskan puluhan orang.
Serangan militer Suriah ke Ghouta Timur memicu kecaman Barat dan membuat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyarankan gencatan senjata. Selama pekan lalu, puluhan ribu orang telah mengungsi melintasi garis depan pertempuran menuju wilayah pemerintah. Bagi para pemberontak Harasta, perjalanan ke Idlib mengingatkan pemberontak dari wilayah lain yang juga menyerah kepada Assad, setelah dikepung dan dibombardir seperti di Ghouta Timur.
Provinsi Idlib merupakan wilayah terbesar yang masih dikuasai pemberontak di Suriah dan populasinya meningkat dua kali lipat oleh pengungsi yang melarikan diri dari wilayah lain, termasuk para pendukung oposisi.
Serangan militer Suriah ke Ghouta itu menjadi salah satu yang paling intensif dalam perang di Suriah. Operasi militer di Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.500 orang. Saksi mata Reuters menyatakan 15 bus dikemudikan ke Kota Harasta untuk mengangkut para pejuang dan keluarganya menuju wilayah oposisi di barat laut Suriah dalam kesepakatan yang dimediasi Rusia. Adapun Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) menjelaskan, lebih dari 4.000 orang melarikan diri dari Kota Douma sejak Rabu (21/3/2018) dengan melintasi wilayah yang dikuasai pemerintah.
Keputusan kelompok Ahrar al-Sham untuk menyerahkan Harasta menjadikan hanya Douma dan wilayah pemberontak lain di Ghouta Timur, termasuk Kota Jobar, Ein Terma, Arbin, dan Zamalka yang masih dikuasai oposisi. Semua wilayah itu masih menjadi basis oposisi dekat ibu kota Suriah, Damaskus. Kemenangan pasukan rezim itu menjadi hadiah terbesar bagi Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang melawan pemberontak sejak direbutnya Aleppo akhir 2016.
"Serangan udara masih dilancarkan di beberapa wilayah Ghouta Timur kemarin pagi, termasuk Arbin dan Zamalka, yang menewaskan 19 orang," ungkap laporan SOHR. Pejabat militer yang diwawancarai televisi mendesak pemberontak yang belum membuat kesepakatan agar segera keluar dari wilayah Ghouta. "Kematian datang padamu jika kamu tidak menyerah," papar pernyataan SOHR.
Pada akhir pekan lalu, Assad ke wilayah pertempuran di Ghouta Timur untuk menunjukkan bahwa dia dalam posisi unggul dalam perang itu. Kesepakatan untuk menyerahkan Harasta merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemberontak Ghouta Timur dan dimulai kemarin dengan pertukaran tahanan.
Saat wawancara dengan televisi Suriah, seorang tentara Suriah yang dibebaskan pemberontak tampak menangis dan berterima kasih kepada Tuhan dan tentara yang membebaskannya. Saksi mata Reuters di perlintasan dengan Harasta menyatakan tentara telah memindahkan penghalang dari garis depan lama di jalan menuju kota agar bus dapat melintas.
Laman Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan tayangan langsung dari titik perlintasan al- Wafideen dari Douma ke wilayah pemerintah. Selama periode beberapa menit, tayangan itu menunjukkan puluhan orang dalam kelompok kecil datang dan berjalan di sepanjang jalan melintasi tentara bersenjata. Beberapa orang membawa barang miliknya dan beberapa orang lainnya membawa anak kecil atau mendorong kereta bayi.
Douma menjadi salah satu wilayah paling padat penduduk di Ghouta Timur dan selama lebih dari sepekan dikepung oleh pemerintah. Kelompok pemberontak Jais al-Islam menguasai kota itu dan bertekad mempertahankannya setelah sebulan serangan pemerintah.
SOHR menyatakan warga sipil meninggalkan wilayah itu sesuai kesepakatan antara oposisi dan Rusia. Pemerintah Suriah menuduh pemberontak di Ghouta Timur menghalangi warga sipil mengungsi. Mereka menyatakan serangan ke Ghouta Timur untuk mengakhiri kontrol militan di wilayah tersebut.
Rezim Suriah juga menyatakan operasi militer itu untuk menghentikan aksi pemberontak yang sering menyerang Damaskus dan wilayah dekatnya. Pada Selasa (20/3/2018), satu roket mengenai pasar di kota yang dikuasai pemerintah hingga menewaskan puluhan orang.
Serangan militer Suriah ke Ghouta Timur memicu kecaman Barat dan membuat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyarankan gencatan senjata. Selama pekan lalu, puluhan ribu orang telah mengungsi melintasi garis depan pertempuran menuju wilayah pemerintah. Bagi para pemberontak Harasta, perjalanan ke Idlib mengingatkan pemberontak dari wilayah lain yang juga menyerah kepada Assad, setelah dikepung dan dibombardir seperti di Ghouta Timur.
Provinsi Idlib merupakan wilayah terbesar yang masih dikuasai pemberontak di Suriah dan populasinya meningkat dua kali lipat oleh pengungsi yang melarikan diri dari wilayah lain, termasuk para pendukung oposisi.
(amm)