Buddha yang Hidup, Julukan Baru Presiden China Xi Jinping

Jum'at, 09 Maret 2018 - 01:29 WIB
Buddha yang Hidup, Julukan...
Buddha yang Hidup, Julukan Baru Presiden China Xi Jinping
A A A
BEIJING - Presiden China Xi Jinping menjabat sebagai pemimpin Partai Komunis serta panglima tertinggi militer. Sekarang, dia memiliki julukan baru sebagai Buddha yang masih hidup.

Julukan agung untuk Presiden Xi diberikan oleh umat Buddha etnis Tibet.

Berbicara pada hari Rabu di sela-sela pertemuan parlemen tahunan China, Wang Guosheng, pemimpin Partai Komunis China dari Provinsi Qing Qing barat laut—tempat kelahiran Dalai Lama—mengatakan bahwa warga Tibet yang tinggal di wilayah tersebut menganggap Xi sebagai Buddha.

Wang mengatakan bahwa provinsi tersebut telah mengikuti pesan Mao Zedong tentang sosok pemmberi inspirasi kepada massa untuk mencintai Partai Komunis China dan pemimpinnya. Gambar pemimpin yang dimaksud telah didistribusikan kepada orang-orang yang dilanda kemiskinan yang dipindahkan ke rumah-rumah baru.

Wang tidak bisa menentukan apakah gambar yang didistribusikan itu gambar Mao Zedong atau Xi Jinping.

“Orang-orang biasa di daerah penggembalaan mengatakan, Sekretaris Jenderal Xi adalah Bodhisattva yang hidup. Ini adalah hal yang sangat jelas untuk dikatakan,” kata Wang, seperti dikutip Reuters, Jumat (9/3/2018).

Bodhisattva adalah individu yang melakukan tindakan welas asih untuk mencapai pencerahan. Bodhisattva kerap diartikan sebagai calon Buddha. Umat Buddha Tibet menganggap pemimpin spiritual mereka yang diasingkan, Dalai Lama, sudah menjadi sosok penjelmaan Avalokitesvara, seorang Bodhisattva belas kasih.

Xi, yang akan diposisikan untuk tetap berkuasa tanpa batas waktu setelah parlemen mengubah konstitusi, dianggap sebagai pemimpin China yang paling kuat sejak era Mao Zedong.

Komentar Wang dipublikasikan di akun WeChat kantor berita Beijing yang dikelola negara bagian setempat pada Rabu malam.

Meskipun menjadi rumah leluhur Dalai Lama, Qinghai pada umumnya kurang tegang ketimbang Daerah Otonomi Tibet. Qinghai juga tidak membatasi kunjungan untuk orang asing.

Kelompok hak asasi manusia dan orang-orang buangan Tibet secara teratur mengkritik pemerintah karena tidak menghormati hak dan tradisi agama orang Tibet. Mereka kerap menganggap pemerintah China menginjak-injak budaya mereka.

Namun, pemerintah China membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa peraturannya telah menciptakan pembangunan ke daerah yang dilanda kemiskinan tersebut.
(mas)
Berita Terkait
Heboh! China Simulasikan...
Heboh! China Simulasikan Penyerangan ke Taiwan Lewat Medsos
Petugas Nakes di China...
Petugas Nakes di China Dilempari Warga
88 WNA China Sindikat...
88 WNA China Sindikat Server Judi dan Pemerasan Online Ditangkap di Batam
Panggung Spektakuler...
Panggung Spektakuler Perayaan 100 Tahun Partai Komunis China
Tsai Tsung-lin Keliling...
Tsai Tsung-lin Keliling Taiwan Serukan Pesan Siap Perang !
Ribuan Penumpang Padati...
Ribuan Penumpang Padati Stasiun Kereta Hongqiao China pada Perayaan Chunyun
Berita Terkini
3 Tentara AS Tewas Diserang...
3 Tentara AS Tewas Diserang Rudal Iran, Trump Salahkan Yordania
15 menit yang lalu
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
40 menit yang lalu
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
2 jam yang lalu
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
2 jam yang lalu
Siapa Khalil al-Hayya?...
Siapa Khalil al-Hayya? Pemimpin Baru Hamas yang Dikenal sebagai Tangan Kanan Iran di Gaza
4 jam yang lalu
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
6 jam yang lalu
Infografis
10 Jurusan yang Mulai...
10 Jurusan yang Mulai Ditinggalkan dan 6 Prodi Primadona Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved