ASEAN Ingin Percepat Negosiasi Kode Etik

Kamis, 08 Februari 2018 - 10:49 WIB
ASEAN Ingin Percepat...
ASEAN Ingin Percepat Negosiasi Kode Etik
A A A
SINGAPURA - Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berharap dapat mempercepat negosiasi kode etik dengan China untuk Laut China Selatan.

Meski begitu, Menteri Pertahanan (Menhan) Singapura Ng Eng Hen menyatakan tidak realistis mengharapkan kesepakatan dalam setahun. China dan 10 anggota ASEAN mengadopsi kerangka kerja negosiasi kode etik untuk mengatasi konflik di Laut China Selatan pada Agustus dan telah mulai berunding.

China mengklaim sebagian besar wilayah perairan itu. Sejumlah negara anggota ASEAN juga mengklaim sebagian wilayah tersebut. “Kami harap ini akan cepat tapiiniisuyangsangat rumit. Ini konflik umur satu abad. Mengharapkan kode etik dalam setahun itu tidak realistis,” kata Menhan Ng Eng Hen setelah pertemuan para Menhan ASEAN di Singapura, kemarin.

ASEAN dan China telah memuji kesepakatan kerangka kerja negosiasi itu sebagai kemajuan. Meski begitu, kegagalan untuk menegaskan tujuan awal perlunya membuat kode etik itu memiliki kekuatan hukum mengikat, memicu keraguan tentang efektivitas pakta tersebut. Membuat China menerima kode etik itu memiliki kekuatan hukum mengikat telah menjadi tujuan lama para anggota ASEAN yang mengklaim wilayah itu.

Beberapa negara ASEAN menganggap China tidak menghormati kedaulatan, menghalangi para nelayan, dan melakukan eksplorasi energi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China Geng Shuang menjelaskan, Beijing bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk kode etik yang memuaskan semua negara di kawasan.

Kendati demikian, China terus meningkatkan pembangunan militer di Laut China Selatan. Angkatan Udara China kemarin juga menyatakan, jet tempur China Su-35 telah terlibat dalam patroli tempur di Laut China Selatan. China tidak menyatakan kapan patroli itu dilakukan atau di wilayah bagian mana di Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan, beberapa Menlu ASEAN menyatakan kekhawatiran tentang aktivitas China di Laut China Selatan, termasuk dalam reklamasi lahan untuk membuat pulau buatan. Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Filipina mengklaim beberapa bagian wilayah Laut China Selatan.

Taiwan juga memiliki klaim serupa. Singapura saat ini memegang posisi sebagai ketua ASEAN pada 2018 dan menjadi tuan rumah pertemuan para Menlu dan Menhan blok regional itu pekan ini. (Muh Shamil)
(nfl)
Berita Terkait
5 Fakta KTT ASEAN di...
5 Fakta KTT ASEAN di Malaysia, dari Keanggotaan Timor Leste hingga Perdamaian Kamboja-Thailand
Dilirik Para Pemimpin...
Dilirik Para Pemimpin Dunia, Pengaruh Geopolitik ASEAN Makin Perkasa
Timor Leste Resmi Jadi...
Timor Leste Resmi Jadi Anggota ke-11 ASEAN, Xanana Gusmao: Babak Baru yang Menginspirasi
3 Alasan Timor Leste...
3 Alasan Timor Leste Baru Bergabung ASEAN pada 2025, dari Pembangunan hingga Menjaga Stabilitas
Jokowi: Saya Tak Ingin...
Jokowi: Saya Tak Ingin Kesatuan dan Sentralitas ASEAN Hanya Jadi Mantra Kosong
Peran Aktif Indonesia...
Peran Aktif Indonesia dalam ASEAN
Berita Terkini
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
6 jam yang lalu
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
7 jam yang lalu
Lebih dari 9.500 Orang...
Lebih dari 9.500 Orang Hilang di Gaza sejak Awal Perang
8 jam yang lalu
Raja Langit Sesungguhnya:...
Raja Langit Sesungguhnya: 5 Helikopter Tempur Paling Mematikan Berdasarkan Rekam Jejak Perang
9 jam yang lalu
Presiden Lebanon Aoun...
Presiden Lebanon Aoun Peringatkan Kesepakatan Gencatan Senjata sebagai Kesempatan Terakhir
10 jam yang lalu
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Kendaraan Kepala Komando Utara IDF di Lebanon Selatan
11 jam yang lalu
Infografis
Trump Ingin Jadi Paus...
Trump Ingin Jadi Paus Berikutnya, Pimpin Gereja Katolik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved