Rivlin: Gaza Segera Runtuh, Hanya Israel yang Bisa Menolong
Senin, 22 Januari 2018 - 11:16 WIB
Rivlin: Gaza Segera Runtuh, Hanya Israel yang Bisa Menolong
A
A
A
TEL AVIV - Presiden Israel Reuven Rivlin mengatakan, Jalur Gaza yang sudah di ambang kehancuran akan segera runtuh dan “mati rasa” akibat blokade yang diberlakukan negaranya selama puluhan tahun. Rivlin mengklaim hanya negaranya yang bisa menolong.
Presiden Rivlin menyalahkan Hamas atas situasi mengerikan yang terjadi di Jalur Gaza, Palestina.
”Waktu akan mendekati ketika infrastruktur di Gaza segera runtuh, membuat banyak warga sipil dalam kesulitan, tanpa kondisi sanitasi, terkena polusi, air kotor dan epidemi,” kata Rivlin pada hari Minggu saat ia melakukan tur ke wilayah perbatasan Gaza.
”Israel adalah satu-satunya di wilayah itu, apapun situasinya, dapat mentransfer kebutuhan pokok kepada penduduk Gaza sehingga mereka dapat menopang jiwa dan pikiran,” katanya, seperti dikutip Haaretz, Senin (22/1/2018).
Klaim itu, kata dia, tak berlebihan karena bantuan dari sumber lain memiliki waktu yang sulit mencapai Gaza. Tapi, kesulitan itu juga disebabkan oleh Israel yang telah berulang kali menghentikan pengiriman dan misi kemanusiaan yang didanai para pendonor.
Tel Aviv bahkan pernah menggunakan kekuatan militer untuk menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan dari para pendonor ke Gaza. Contoh, bantuan kemanusiaan yang dibawa para aktivis dengan kapal Mavi Marmara pada tahun 2010 diserang militer Israel yang menewaskan sembilan aktivis.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan, Israel tetap menjadi penyebab utama penderitaan kemanusiaan Palestina di wilayah-wilayah pendudukan termasuk Jalur Gaza. Misalnya, 97 persen air di Gaza tidak dapat diminum dan penduduk setempat terpaksa membayar enam kali biaya air biasa.
Kamar dagang dan industri Gaza baru-baru ini mengatakan bahwa tahun 2017 adalah tahun yang terburuk secara ekonomi akibat “tindakan penghukuman” yang dilakukan oleh Israel. Tingkat pengangguran di daerah kantong Jalur Gaza naik menjadi 46,6 persen pada kuartal ketiga 2017.
Seolah menutup mata atas laporan itu, Presiden Rivlin tetap menunjuk Hamas sebagai sumber penderitaan Gaza. ”Sayangnya, Hamas sekali lagi mengeksploitasi penderitaan warga sipil Jalur Gaza dan menggunakan bahan-bahan (bantuan) untuk memberi manfaat bagi kehidupan warga demi tujuan teroris,” katanya.
“Hamas tetap sebuah organisasi teror yang berusaha menghancurkan Negara Israel,” ujar Rivlin.”Kelompok tersebut mengembangkan basis teroris di rumah sakit, di masjid-masjid, di sekolah-sekolah, untuk merencanakan serangan terhadap Israel.”
Hamas yang berseteru dengan faksi Fatah Palestina mengambil alih Jalur Gaza pada bulan Maret 2007. Langkah itu memicu blokade darat dan laut oleh Mesir dan Israel. Imbasnya, sekitar 1,8 juta warga Palestina di Jalur Gaza terisolasi dari dunia luar.
Presiden Rivlin menyalahkan Hamas atas situasi mengerikan yang terjadi di Jalur Gaza, Palestina.
”Waktu akan mendekati ketika infrastruktur di Gaza segera runtuh, membuat banyak warga sipil dalam kesulitan, tanpa kondisi sanitasi, terkena polusi, air kotor dan epidemi,” kata Rivlin pada hari Minggu saat ia melakukan tur ke wilayah perbatasan Gaza.
”Israel adalah satu-satunya di wilayah itu, apapun situasinya, dapat mentransfer kebutuhan pokok kepada penduduk Gaza sehingga mereka dapat menopang jiwa dan pikiran,” katanya, seperti dikutip Haaretz, Senin (22/1/2018).
Klaim itu, kata dia, tak berlebihan karena bantuan dari sumber lain memiliki waktu yang sulit mencapai Gaza. Tapi, kesulitan itu juga disebabkan oleh Israel yang telah berulang kali menghentikan pengiriman dan misi kemanusiaan yang didanai para pendonor.
Tel Aviv bahkan pernah menggunakan kekuatan militer untuk menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan dari para pendonor ke Gaza. Contoh, bantuan kemanusiaan yang dibawa para aktivis dengan kapal Mavi Marmara pada tahun 2010 diserang militer Israel yang menewaskan sembilan aktivis.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan, Israel tetap menjadi penyebab utama penderitaan kemanusiaan Palestina di wilayah-wilayah pendudukan termasuk Jalur Gaza. Misalnya, 97 persen air di Gaza tidak dapat diminum dan penduduk setempat terpaksa membayar enam kali biaya air biasa.
Kamar dagang dan industri Gaza baru-baru ini mengatakan bahwa tahun 2017 adalah tahun yang terburuk secara ekonomi akibat “tindakan penghukuman” yang dilakukan oleh Israel. Tingkat pengangguran di daerah kantong Jalur Gaza naik menjadi 46,6 persen pada kuartal ketiga 2017.
Seolah menutup mata atas laporan itu, Presiden Rivlin tetap menunjuk Hamas sebagai sumber penderitaan Gaza. ”Sayangnya, Hamas sekali lagi mengeksploitasi penderitaan warga sipil Jalur Gaza dan menggunakan bahan-bahan (bantuan) untuk memberi manfaat bagi kehidupan warga demi tujuan teroris,” katanya.
“Hamas tetap sebuah organisasi teror yang berusaha menghancurkan Negara Israel,” ujar Rivlin.”Kelompok tersebut mengembangkan basis teroris di rumah sakit, di masjid-masjid, di sekolah-sekolah, untuk merencanakan serangan terhadap Israel.”
Hamas yang berseteru dengan faksi Fatah Palestina mengambil alih Jalur Gaza pada bulan Maret 2007. Langkah itu memicu blokade darat dan laut oleh Mesir dan Israel. Imbasnya, sekitar 1,8 juta warga Palestina di Jalur Gaza terisolasi dari dunia luar.
(mas)