Tillerson: Trump Tidak Punya Dasar Hukum Serang Pasukan Assad

Rabu, 14 Juni 2017 - 20:13 WIB
Tillerson: Trump Tidak...
Tillerson: Trump Tidak Punya Dasar Hukum Serang Pasukan Assad
A A A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson menyatakan, Presiden AS Donald Trump sejatinya tidak memiliki dasar hukum untuk menyerang pasukan Bashar al-Assad, atau proxy Iran di Suriah. Ini karena Trump tidak pernah mendapat persetujuan dari Kongres untuk melakukan serangan.
"Saya setuju dengan itu," kata Tillerson saat ditanya Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS mengenai apakah tidak ada otorisasi hukum dari Kongres untuk menargetkan Presiden Suriah Bashar Assad atau proxy Iran, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (14/6).
Tillerson, dalam sesi tanya jawab dengan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS itu kemudian menekankan, misi dan tujuan AS di Suriah tidak berubah dari fokusnya, yakni untuk mengalahkan Daesh.
Trump sendiri telah beberapa kali memerintahkan serangan terhadap basis pasukan pemerintah Suriah. Pada tanggal 8 Juni, koalisi membom pasukan Damaskus di Suriah dekat kota al-Tanf. Pada tanggal 6 Juni, koalisi melakukan serangan terhadap pasukan pemerintah pro-Suriah saat mereka memasuki zona de-eskalasi dan diduga menjadi ancaman.
Sebelumnya, Pada tanggal 6 April, kapal perusak Angkatan Laut AS menembakkan 59 rudal jelajah ke Pangkalan Udara Ash Sha'irat di Suriah barat, dengan menyebut serangan mereka sebagai peringatan ke Damaskus menyusul insiden senjata kimia di provinsi Idlib, yang diklaim Washington dilakukan oleh pasukan pemerintah Suriah.
Selanjutnya, pada tanggal 16 September, pesawat koalisi pimpinan AS melakukan empat serangan terhadap basis tentara Suriah di dekat bandara Deir ez-Zor, yang menewaskan hampir 100 orang.
Bulan lalu, Senator Jeff Flake dan Tim Kane memperkenalkan sebuah undang-undang untuk memperbarui Otorisasi Penggunaan Angkatan Militer (AUMF), yang disahkan sebagai reaksi atas serangan teror 11 September 2001.
Setiap presiden sejak George W. Bush telah menggunakan AUMF untuk melakukan operasi militer di negara-negara yang diduga menjadi pusat kelompok teror, termasuk Afghanistan, Irak, Libya, Somalia, Suriah dan Yaman.
(esn)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
30 menit yang lalu
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
55 menit yang lalu
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
1 jam yang lalu
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
1 jam yang lalu
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
2 jam yang lalu
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
3 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved