Pyongyang Uji Coba Rudal, Dialog Korut-AS Terancam
Senin, 15 Mei 2017 - 01:14 WIB
Pyongyang Uji Coba Rudal, Dialog Korut-AS Terancam
A
A
A
NEW YORK - Duat besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Nikki Haley, mengecam uji coba rudal terbaru Korea Utara (Korut). Menurutnya, itu bukanlah cara untuk melakukan perundingan dengan Presiden AS Donald Trump.
Haley pun memperingatkan AS akan terus memperketat tekanannya terhadap negara yang terisolasi itu. Ia juga mengatakan bahwa pemimpin Korut, Kim Jong-un, berada dalam kondisi paranoid seperti dikutip dari NBC News, Senin (15/5/2017).
Komentar itu dilontarkan Haley beberapa jam setelah Korut meluncurkan rudal balistik yang terbang sekitar 430 mil sebelum menabrak laut, kata perwira militer AS dan Korea Selatan (Korsel).
Menurut Haley tes rudal tersebut tampaknya ditujukan untuk mengirimkan pesan kepada Korsel. Ia juga menyatakan bahwa program rudal Korut sepertinya "semakin dengan dengan rumah" Rusia.
Meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea terjadi sehari setelah seorang diplomat tinggi Korut mengatakan bahwa Pyongyang akan bersedia bertemu dengan pemerintah Trump untuk negosiasi jika kondisinya tepat.
Presiden Donald Trump sendiri telah membuka pintu awal bulan ini untuk melakukan pembicaraan. Trump mengatakan bahwa dia akan "merasa terhormat" untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Baca juga:
Trump: Saya Siap Bertemu Dengan Kim Jong-un
Uji coba rudal tersebut juga merupakan ujian pertama bagi presiden Korsel yang baru terpilih, Moon Jae-in. Jae-in langsung meminta pertemuan dengan dewan keamanan nasional mengenai masalah tersebut, kata seorang juru bicara kepresidenan.
Haley pun memperingatkan AS akan terus memperketat tekanannya terhadap negara yang terisolasi itu. Ia juga mengatakan bahwa pemimpin Korut, Kim Jong-un, berada dalam kondisi paranoid seperti dikutip dari NBC News, Senin (15/5/2017).
Komentar itu dilontarkan Haley beberapa jam setelah Korut meluncurkan rudal balistik yang terbang sekitar 430 mil sebelum menabrak laut, kata perwira militer AS dan Korea Selatan (Korsel).
Menurut Haley tes rudal tersebut tampaknya ditujukan untuk mengirimkan pesan kepada Korsel. Ia juga menyatakan bahwa program rudal Korut sepertinya "semakin dengan dengan rumah" Rusia.
Meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea terjadi sehari setelah seorang diplomat tinggi Korut mengatakan bahwa Pyongyang akan bersedia bertemu dengan pemerintah Trump untuk negosiasi jika kondisinya tepat.
Presiden Donald Trump sendiri telah membuka pintu awal bulan ini untuk melakukan pembicaraan. Trump mengatakan bahwa dia akan "merasa terhormat" untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.
Baca juga:
Trump: Saya Siap Bertemu Dengan Kim Jong-un
Uji coba rudal tersebut juga merupakan ujian pertama bagi presiden Korsel yang baru terpilih, Moon Jae-in. Jae-in langsung meminta pertemuan dengan dewan keamanan nasional mengenai masalah tersebut, kata seorang juru bicara kepresidenan.
(ian)