Senator Rusia Prediksi Peningkatan Ketegangan di Turki Paska Referendum

Senin, 17 April 2017 - 17:33 WIB
Senator Rusia Prediksi...
Senator Rusia Prediksi Peningkatan Ketegangan di Turki Paska Referendum
A A A
MOSKOW - Ketua Parlemen Tinggi Rusia, Konstantin Kosachev memprediksi akan adanya peningkatan ketegangan paska digelarnya referendum di Turki. Referendum di Turki dimenangkan oleh sisi Presiden Turki Tayyip Erdogan, yang mendukung perubahan konsitusi di negara tersebut.
Kosachev menyatakan, kemungkinan besar akan muncul penolakan dari kubu-kubu yang mendukung hubungan lebih dekat dengan Uni Eropa (UE), dan mereka yang tidak ingin adanya perubahan konstitusi di Turki. Kubu-kubu itu diprediksi akan memberikan perlawanan yang cukup kuat.
"Hasil voting ini tidak mungkin memberikan Erdogan kenyamanan, karena pendukungnya tidak secara mengesankan melampaui lawan-lawannya," kata Kosachev, sepeti dilansir Tass pada Senin (17/4).
"Dia tidak benar-benar bebas, sehingga ia harus mengambil risiko. Kondisinya sekarang masih cukup baik, tetapi perlawanan akan tumbuh di antara tokoh kelas berat yang mendukung interaksi yang dekat dengan Eropa dan orang-orang yang berdiri untuk sistem parlementer yang menyeimbangkan kekuasaan Presiden," sambungnya.
Pada saat yang sama, Kosachev mengungkapkan keyakinan, meskipun akan adanya perlawanan keras, Erdogan akan bertindak dengan cara yang benar dan sesuai.Dia kemudian mengharapkan (UE) untuk bersikap kritis terhadap hasil referendum Turki ini.
"Dalam kasus apapun, respon pertama Brussels tampaknya cukup jelas, yakni tidak ada tempat di UE untuk Turki baru ini," ucapnya.
Turki menggelar referendum untuk mengamandemen konstitusi yang berujung pada berubahnya sistem parlementer menjadi presidensial. Selain itu, berdasarkan perubahan ini, jumlah kursi di Parlemen akan dinaikkan dari 550 kursi menjadi 600, persyaratan usia untuk maju sebagai calon dalam pemilihan Parlemen akan diturunkan dari awal 25 tahun menjadi 18 tahun, pihak berwenang dari Dewan Humum Yudisial akan berubah, dan sejumlah perubahan lainnya.
(esn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
15 menit yang lalu
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
5 jam yang lalu
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
10 jam yang lalu
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
10 jam yang lalu
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
11 jam yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
12 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved