Pasukan Irak Kuasai Jembatan Al-Hurriya di Mosul
Selasa, 07 Maret 2017 - 21:30 WIB
Pasukan Irak Kuasai Jembatan Al-Hurriya di Mosul
A
A
A
BAGHDAD - Pasukan Irak yang didukung Amerika Serikat (AS) menguasai Jembatan al-Hurriya di Mosul kemarin. Al-Hurriya menjadi jembatan kedua yang dikuasai pasukan Irak di Mosul, setelah sebelumnya mengontrol satu jembatan di wilayah selatan. Operasi militer yang dilancarkan untuk menguasai Mosul barat itu dimulai sejak 19 Februari.
”Kami mengontrol jembatan hingga bagian barat,” papar juru bicara pasukan elite Respons Cepat dari Kementerian Dalam Negeri Irak yang me nguasai wilayah di sepanjang Sungai Tigris, dikutip kantorberita Reuters. Semua lima jembatan yang melintasi Sungai Tigris di Mosul telah dihancurkan, tapi kemu dian dikuasai dan dibangun lagi untuk membantu melawan para militan.
Hingga sekarang para militan masih mengontrol Kota Irak utara itu sejak 2014. Pasukan Irak telah menguasai wilayah timur Mosul pada Januari lalu setelah 100 hari pertempuran dan meluncurkan serangan di distrik yang terletak di barat Tigris pada 19 Februari tersebut. Kekalahan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Mosul akan memukul sayap militer kelompok yang dideklarasikan pada 2014 oleh Abu Bakr al-Baghdadi tersebut.
Daerah ISIS meliputi beberapa bagian Irak dan Suriah. Baghdadi mengklaim kekhalifahan dari Masjid Nuri di Mosul di pusat kota tua yang masih dikontrol para pengikutnya. Pasukan Irak saat ini menuju pusat kota tua tersebut dari wilayah selatan dan barat daya.
Sementara lebih dari 40.000 orang mengungsi pekan lalu dari Kota Mosul. Jumlah pengungsi meningkat dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran semakin mendekati wilayah padat penduduk di Mosul barat. Berbagai lembaga bantuan mengkhawatirkan kamp-kamp pengungsi telah penuh dengan warga sipil.
Mosul Displacement Tracking Matrix yang disusun Inter national Organization for Migration (IOM) menunjukkan jumlah pengungsi sejak awal operasi militer pada Oktober lalu me ningkat menjadi 206.000 pada akhir pekan lalu, naik dari 164.000 pada 26 Februari. Jumlah tersebut mungkin akan terus bertambah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu memperingatkan bahwa lebih dari 400.000 orang, lebih dari setengah sisa populasi di Mosur barat, dapat mengungsi.
Pasukan Irak menguasai Mosul timur pada Januari lalu setelah 100 hari pertempuran dan serangan di distrik yang terletak di barat Sungai Tigris pada 19 Februari. Unit Respons Cepat dan pasukan Badan Anti- erorisme melancarkan serangan terbaru ke kota itu akhir pekan lalu setelah 48 jam berhenti akibat cuaca buruk yang menyulitkan pengintaian udara.
Sumber dari pejabat pemerintah menyatakan tim Respons Cepat sangat dekat dengan gedung-gedung pemerintahan dekat kota tua. Kemajuan ini tercapai dengan mengerahkan penembak jitu dan tembakan jitu.
”Kompleks perumahan Dewan Provinsi Nineveh dan gedung-gedung gubernur Nineveh harus dikuasai segera,” kata tim Respons Cepat Letnan Koloel Abdel Amir al-Mohammadawi pada Reuters.
”Kami mengontrol jembatan hingga bagian barat,” papar juru bicara pasukan elite Respons Cepat dari Kementerian Dalam Negeri Irak yang me nguasai wilayah di sepanjang Sungai Tigris, dikutip kantorberita Reuters. Semua lima jembatan yang melintasi Sungai Tigris di Mosul telah dihancurkan, tapi kemu dian dikuasai dan dibangun lagi untuk membantu melawan para militan.
Hingga sekarang para militan masih mengontrol Kota Irak utara itu sejak 2014. Pasukan Irak telah menguasai wilayah timur Mosul pada Januari lalu setelah 100 hari pertempuran dan meluncurkan serangan di distrik yang terletak di barat Tigris pada 19 Februari tersebut. Kekalahan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Mosul akan memukul sayap militer kelompok yang dideklarasikan pada 2014 oleh Abu Bakr al-Baghdadi tersebut.
Daerah ISIS meliputi beberapa bagian Irak dan Suriah. Baghdadi mengklaim kekhalifahan dari Masjid Nuri di Mosul di pusat kota tua yang masih dikontrol para pengikutnya. Pasukan Irak saat ini menuju pusat kota tua tersebut dari wilayah selatan dan barat daya.
Sementara lebih dari 40.000 orang mengungsi pekan lalu dari Kota Mosul. Jumlah pengungsi meningkat dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran semakin mendekati wilayah padat penduduk di Mosul barat. Berbagai lembaga bantuan mengkhawatirkan kamp-kamp pengungsi telah penuh dengan warga sipil.
Mosul Displacement Tracking Matrix yang disusun Inter national Organization for Migration (IOM) menunjukkan jumlah pengungsi sejak awal operasi militer pada Oktober lalu me ningkat menjadi 206.000 pada akhir pekan lalu, naik dari 164.000 pada 26 Februari. Jumlah tersebut mungkin akan terus bertambah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu memperingatkan bahwa lebih dari 400.000 orang, lebih dari setengah sisa populasi di Mosur barat, dapat mengungsi.
Pasukan Irak menguasai Mosul timur pada Januari lalu setelah 100 hari pertempuran dan serangan di distrik yang terletak di barat Sungai Tigris pada 19 Februari. Unit Respons Cepat dan pasukan Badan Anti- erorisme melancarkan serangan terbaru ke kota itu akhir pekan lalu setelah 48 jam berhenti akibat cuaca buruk yang menyulitkan pengintaian udara.
Sumber dari pejabat pemerintah menyatakan tim Respons Cepat sangat dekat dengan gedung-gedung pemerintahan dekat kota tua. Kemajuan ini tercapai dengan mengerahkan penembak jitu dan tembakan jitu.
”Kompleks perumahan Dewan Provinsi Nineveh dan gedung-gedung gubernur Nineveh harus dikuasai segera,” kata tim Respons Cepat Letnan Koloel Abdel Amir al-Mohammadawi pada Reuters.
(esn)