Hillary Akui Capres AS Butuh Dana Besar untuk Kampanye

Sabtu, 08 Oktober 2016 - 10:29 WIB
Hillary Akui Capres...
Hillary Akui Capres AS Butuh Dana Besar untuk Kampanye
A A A
WASHINGTON - Situs WikiLeaks merilis ribuan email milik ketua kampanye calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Hillary Clinton, John Podesta. Dari ribuan email tersebut, terdapat sebuat email yang berisi pembicaraan pribadi Hillary dengan bankir di Wall Strett.

Dalam transkip email tersebut, Hillary mengatakan kepada sang bankir bahwa ia menyukai perdagangan terbuka dan perbatasan terbuka. Terkait hal tersebut sang bankir mengharapkan strategi terbaik untuk membantu reformasi di sektor keuangan AS seperti dikutip dari The Telegraph, Sabtu (8/10/2016).

Email yang dirilis pada Jumat waktu setempat itu juga memuat kutipan pidato pada Oktober 2013 dalam sebuah acara yang disponsori Goldman Sachs. Saat itu, Hillary mengakui bahwa calon presiden AS perlu dukungan keuangan dari Wall Street untuk melakukan kampanye nasional yang kompetitif.

"Untuk menjalankan kantor di negara kita membutuhkan banyak uang, dan kandidat harus pergi keluar dan mengumpulkannya. New York mungkin adalah situs terkemuka untuk berkontribusi dalam penggalangan dana bagi calon di kedua sisi dan juga pusat ekonomi kita. Dan ada banyak orang di sini yang harus mengajukan beberapa pertanyaan sulit sebelum menyerahkan kontribusinya dalam kampanye kepada orang-orang yang berani menempuh bahaya dengan seluruh perekonomian kita," imbuhnya.

Dalam pidato yang sama, Hillary juga memberikan rasa hormat untuk industri keuangan New York. Ia pun mendesak kepada para donor kaya guna menggunakan pengaruh politiknya untuk bersikap patriotik dan bukan untuk kepentingan pribadi. Dia juga berbicara tentang perlunya untuk memasukkan perspektif Wall Street dalam reformasi keuangan.

"Orang-orang yang tahu industri lebih baik dari siapa pun adalah orang-orang yang bekerja di industri," kata Hillary.

Bocoran ini pun mendapat tanggapan dari Ketua Komite Nasional Partai Republik Reince Priebus. "Ini tidak sulit untuk melihat mengapa dia berjuang begitu keras untuk menjaga transkip pidatonya kepada bank Wall Street yang sembunyi-sembunyi membayarnya jutaan dollar," katanya dalam sebuah pernyataan.
(ian)
Berita Terkait
Ini Dia Presiden Amerika...
Ini Dia Presiden Amerika Serikat Paling Narsis Berdasarkan Penelitian
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Ketika Hillary Clinton...
Ketika Hillary Clinton Diteriaki Penjahat Perang saat Berpidato
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Hillary Clinton Tuduh...
Hillary Clinton Tuduh Trump Tutupi Epstein Files, Desak Dirilis Total
Berita Terkini
Beberapa Personel Militer...
Beberapa Personel Militer Kuwait Terluka dalam Serangan Iran
3 jam yang lalu
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
5 jam yang lalu
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
6 jam yang lalu
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
7 jam yang lalu
Yaman Memanas, Houthi...
Yaman Memanas, Houthi Ancam Serang Fasilitas Minyak di Arab Saudi
8 jam yang lalu
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
9 jam yang lalu
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved