Rusia: Oposisi Suriah Harus Dipisahkan dari Al-Nusra
Sabtu, 24 September 2016 - 08:11 WIB
Rusia: Oposisi Suriah Harus Dipisahkan dari Al-Nusra
A
A
A
NEW YORK - Menteri luar negeri Rusia mengatakan bahwa oposisi moderat Suriah harus terpisah dari kelompok teroris. Hal ini dilakukan agar gencatan senjata benar-benar bisa dilakukan.
"Jadi kita semua mendukung gencatan senjata, tetapi tanpa pemisahan oposisi dari Front al-Nusra, gencatan senjata tidak berarti," kata Sergei Lavrov dalam konferensi pers di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
"Sayangnya, koalisi, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang berkomitmen untuk memastikan bahwa pemisahan ini terjadi, belum mampu melakukan hal ini," tambahnya seperti dikutip dari VOA, Sabtu (24/9/2016).
Pada bulan Juli, kelompok yang dikenal sebagai Jabhat al-Nusra atau Front al-Nusra mengatakan telah memutuskan hubungan dengan jaringan teroris internasion Al-Qaida. Mereka kemudian berubah menjadi Jabhat Fatah al-Sham.
Lavrov mengeluh karena sejak Amerika Serikat dan Rusia, sebagai perwailan dari Kelompok Pendukung Suriah Internasional, menyetujui gencatan senjata dan mulai berlaku 12 September setidaknya ada 350 serangan yang dilakukan oleh oposisi di Aleppo. Ia pun menegaskan jika bantuan militer Rusia mencegah runtuhnya Suriah dan disintegrasi di bawah serangan teroris.
"Krisis Suriah tidak akan selesai dan situasi kemanusiaan yang mengerikan tidak akan membaik tanpa menekan ISIS, Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok ekstremis yang berasosiasi dengan mereka. Ini adalah syarat utama untuk memperkuat penghentian-of-permusuhan rezim dan gencatan senjata nasional secara keseluruhan," kata Lavrov.
"Jadi kita semua mendukung gencatan senjata, tetapi tanpa pemisahan oposisi dari Front al-Nusra, gencatan senjata tidak berarti," kata Sergei Lavrov dalam konferensi pers di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
"Sayangnya, koalisi, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang berkomitmen untuk memastikan bahwa pemisahan ini terjadi, belum mampu melakukan hal ini," tambahnya seperti dikutip dari VOA, Sabtu (24/9/2016).
Pada bulan Juli, kelompok yang dikenal sebagai Jabhat al-Nusra atau Front al-Nusra mengatakan telah memutuskan hubungan dengan jaringan teroris internasion Al-Qaida. Mereka kemudian berubah menjadi Jabhat Fatah al-Sham.
Lavrov mengeluh karena sejak Amerika Serikat dan Rusia, sebagai perwailan dari Kelompok Pendukung Suriah Internasional, menyetujui gencatan senjata dan mulai berlaku 12 September setidaknya ada 350 serangan yang dilakukan oleh oposisi di Aleppo. Ia pun menegaskan jika bantuan militer Rusia mencegah runtuhnya Suriah dan disintegrasi di bawah serangan teroris.
"Krisis Suriah tidak akan selesai dan situasi kemanusiaan yang mengerikan tidak akan membaik tanpa menekan ISIS, Jabhat al-Nusra dan kelompok-kelompok ekstremis yang berasosiasi dengan mereka. Ini adalah syarat utama untuk memperkuat penghentian-of-permusuhan rezim dan gencatan senjata nasional secara keseluruhan," kata Lavrov.
(ian)