Dokumen DNC Bocor, AS Pertimbangkan Jatuhkan Sanksi ke Rusia

Sabtu, 13 Agustus 2016 - 01:17 WIB
Dokumen DNC Bocor, AS...
Dokumen DNC Bocor, AS Pertimbangkan Jatuhkan Sanksi ke Rusia
A A A
WASHINGTON - Para pejabat Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia atas bocornya dokumen e-mail Komite Nasional Partai Demokrat (DNC) yang dirilis WikiLeaks. Rencana penjatuhan sanksi baru ini dilaporkan Wall Street Journal mengutip sumber pemerintah AS.

Dokumen DNC yang dibocorkan WikiLeaks salah satunya mengungkap persekongkolan elite DNC dalam memuluskan jalan Hillary Clinton sebagai calon presiden AS dari Partai Republik dengan “menyingkirkan” kandidat lain, Bernie Sanders.

Pihak DNC menuduh hacker yang berafiliasi dengan Rusia sebagai peretas e-mail DNC. Pemerintah Rusia telah membantah terlibat peretasan dokumen DNC. Situs antikerahasiaan WikiLeaks juga membantah bahwa dokumen DNC yang mereka peroleh bersumber dari hacker Rusia.

Gedung Putih sejauh ini tidak berkomentar. Namun, menurut Wall Steet Journal (WSJ), FBI dan badan intelijen AS mengisyaratkan bahwa serangan cyber itu hampir pasti dilakukan oleh hacker yang berafiliasi dengan Rusia.

Berbicara di Washington DC pada hari Kamis, pemimpin parlemen dari Partai Demokrat, Nancy Pelosi, mengatakan bahwa dia tidak tahu persis bagaimana kebocoran dokumen DNC bisa terjadi.

”Saya tahu pasti itu adalah (ulah) Rusia,” kata Pelosi kepada wartawan.”Kami menilai itu sebuah kerusakan.”

”Ini adalah Watergate elektronik. Rusia di (balik) kekacauan. Siapa yang memberikan informasi? Saya tidak tahu. Yang dibuang? Saya tidak tahu,” lanjut dia seperti dikutip dari WSJ, Sabtu (13/8/2016).

Partai Demokrat kini mendesak pemerintahan Obama untuk mengambil tindakan tegas.

”Ketika pemerintah yakin memiliki bukti yang cukup dari atribusi, itu akan membuat atribusi publik serta mempertimbangkan langkah-langkah lain yang diperlukan,” kata Adam Schiff, Komite Intelijen Senat AS dari Partai Demokrat.

Selama dua periode pemerintahan Presiden Barack Obama, hubungan antara Moskow dan Washington telah memburuk di posisi terendah, mirip situasi Perang Dingin di masa silam.

Washington telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap politisi dan perusahaan Rusia setelah reunifikasi Crimea dengan Rusia dan menuduh Moskow terlibat dalam perang sipil di Ukraina.
(mas)
Berita Terkait
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Fakta Perang Hibrida...
Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Hubungan Amerika Serikat...
Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Dikabarkan Retak
Perbandingan Wagner...
Perbandingan Wagner Rusia dan Blackwater Amerika Serikat
Berita Terkini
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
1 jam yang lalu
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
2 jam yang lalu
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
3 jam yang lalu
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
3 jam yang lalu
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
3 jam yang lalu
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved