Suriah Tunjuk Diplomat PBB Jadi Kepala Negosiator Damai
Kamis, 21 Januari 2016 - 23:09 WIB
Suriah Tunjuk Diplomat PBB Jadi Kepala Negosiator Damai
A
A
A
DAMASKUS - Suriah menunjuk Bashar Jaafari, Duta Besar Suriah untuk PBB, sebagai kepala delegasi dalam pembicaraan perjanjian damai yang akan dihelat di Jenewa pada 25 Januari mendatang.
"Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Faisal Mekdad akan bertindak sebagai pengawas delegasi yang terdiri dari sejumlah pengacara dan anggota senior Kementerian Luar Negeri Suriah," bunyi laporan yang diturunkan surat kabar lokal al-Watan seperti disitir dari Xinhua, Kamis (21/1/2016).
Sedangkan dari kelompok oposisi menunjuk Mohammed Alloush sebagai negosiator utamanya dalam pembicaraan itu. Alloush adalah pemimpin gerilyawan Islam yang didukung oleh Arab Saudi.
Sebelumnya, Rusia dan Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk mengadakan perundingan sesuai jadwal sebagai langkah awal menuju sebuah road map untuk menyelesaikan krisis Suriah. Langkah ini mendapat sokongan dari dunia internasional.
Meski begitu, bayang-bayang kegagalan masih menghantui pertemuan ini. Pasalnya, kelompok oposisi sempat mengancam tidak akan menghadiri pembicaraan damai jika diikuti oleh pihak ketiga. Selain itu, hingga saat ini masih ada silang pendapat mengenai kelompok oposisi yang bisa mengikuti pembicaraan damai.
"Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Faisal Mekdad akan bertindak sebagai pengawas delegasi yang terdiri dari sejumlah pengacara dan anggota senior Kementerian Luar Negeri Suriah," bunyi laporan yang diturunkan surat kabar lokal al-Watan seperti disitir dari Xinhua, Kamis (21/1/2016).
Sedangkan dari kelompok oposisi menunjuk Mohammed Alloush sebagai negosiator utamanya dalam pembicaraan itu. Alloush adalah pemimpin gerilyawan Islam yang didukung oleh Arab Saudi.
Sebelumnya, Rusia dan Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk mengadakan perundingan sesuai jadwal sebagai langkah awal menuju sebuah road map untuk menyelesaikan krisis Suriah. Langkah ini mendapat sokongan dari dunia internasional.
Meski begitu, bayang-bayang kegagalan masih menghantui pertemuan ini. Pasalnya, kelompok oposisi sempat mengancam tidak akan menghadiri pembicaraan damai jika diikuti oleh pihak ketiga. Selain itu, hingga saat ini masih ada silang pendapat mengenai kelompok oposisi yang bisa mengikuti pembicaraan damai.
(ian)