alexametrics

Produsen mesin roket sebut AS tak bisa eksis seperti Rusia

loading...
Produsen mesin roket sebut AS tak bisa eksis seperti Rusia
Roket Atlas V Amerika Serikat yang mesin roketnya merupakan produk Rusia. Foto: Reuters/Gene Blevins.
A+ A-
Sindonews.com – Pentagon terkena batunya akibat sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia. Sebab, Pentagon tidak bisa lagi mengimpor mesin roket buatan Rusia yang selama ini jadi andalan mereka untuk mengorbitkan satelit militer dan sipil.

Perusahaan mesin roket di Rusia, yakni United Launch Alliance (ULA) mematuhi kebijakan Pemerintah Rusia yang juga melarang memasok mesin roket RD-180 kepada AS setelah para pejabat Rusia dijatuhi sanksi. AS menjatuhkan sanksi kepada banyak pejabat Rusia, setelah Mosow dianggap terlalu intervensi dalam krisis di Ukraina. (Baca: AS jatuhkan sanksi ke Rusia, Pentagon "kena batunya")

ULA sejatinya adalah perusahaan kemitraan Lockheed Martin dan Boeing. ULA menilai, Pentagon yang sudah ketergantungan dengan mesin roket Rusia, menjadi pertanda bahwa AS tidak akan bisa eksis seperti Rusia.



“ULA dan Departemen Pertahanan kami selalu dipersiapkan dalam setiap gangguan,” kata juru bicara ULA, Jessica Rye, dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Rabu (14/5/2014).

Dia siap mematuhi kebijakan Rusia, seperti yang disampaikan Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin yang melarang ekspor mesin roket Rusia ke AS, sebagai balasan atas sanksi yang dikenakan kepada para pejabat Moskow.

Seperti diketahui, Rogozin selain melarang Rusia mengekspor mesin roket kepada AS, dia juga akan menghentikan semua operasional satelit GPS AS yang ada di Rusia mulai 1 Juni 2014. Dia tidak ingin, satelit yang beroperasi di Rusia dimanfaatkan AS untuk kepentingan militer Washington. Dia bahkan berpikir untuk mengkomersialkan semua potensi alutsista Rusia. (Baca juga: Dendam, Moskow hentikan operasi satelit AS di Rusia)

Rye pun menyarankan kepada Rusia untuk menggunakan dan mengembangkan stasiun satelit tanpa peran AS. ”Segmen Rusia dapat eksis secara independen ketimbang Amerika. AS tidak bisa (eksis),” ujarnya.

Sebelum AS dan Rusia bersitegang, Badan Antariksa AS atau NASA bekerja sama dengan perusahaan ULA untuk mengembangkan transportasi ruang angkasa dengan tujuan membantu misi ruang angkasa AS pada tahun 2017. AS membayar Rusia untuk kerjasama ini senilai ebih dari USD60 juta per orang untuk setiap penerbangan astronot.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak