alexametrics

Rusia Gelar Referendum, Kepemimpinan Putin Diprediksi Kian Panjang

loading...
Rusia Gelar Referendum, Kepemimpinan Putin Diprediksi Kian Panjang
Seorang perempuan warga Rusia melakukan pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) selamareferendum di Vladivostok, Rusia, 25 Juni 2020. Foto/Reuters
A+ A-
MOSKOW - Warga Rusia kemarin mulai memberikan suara pada referendum yang digelar selama tujuh hari sebagai Langkah bagi Presiden Vladimir Putin untuk memperpanjang kekuasannya di Kremlin hingga 2036. Banyak kritikus menyebut referendum sebagai kudeta konstitusional. Hingga Sebagian Rusiapun menyebut kalau berbicara Rusia, pasti fokus pada Putin.

Pemungutan suara itu digelar di tengah pandemi corona yang memicu kekhawatiran dari kubu oposisi. Jumlah kasus corona telah mencapai 600.000 kasus. Banyak pihak juga khawatir dengan kecurangan yang dilaksanakan selama pemungutan suara. Mereka khawatir karena Putin (67) telah berkuasa sejak lama. Namun,pihak penyelanggara referendum menyebut segala langkah pencegahan telah dilaksanakan.

Jika perubahan konstitusional disepakati, maka Putin bisa berkuasa hingga dua periode lama hingga 2036. Padahal, periode kekuasaannya akan berakhir pada 2024. Putin yang merupakan mantan agen intelijen Rusia, KGB, telah berkuasa baik sebagai presiden atau pun perdana Menteri sejak 1999. (Baca: Dokumen Ungkap Putin Cegah Obama Ciptakan Negara Palestina)



Banyak kritikus menyebutkan Putin sepertinya ingin berkuasa seperti pemimpin Soviet, Leonid Brezhnev, yang meninggal saat berkuasa. “Sejak Putin tidak mencari penggantinya, dia menunjuk dirinya sendiri,” kata peneliti di Carnegie, Andrei Kolesnikov, dilansir Reuters.

Dengan dukungan media pemerintah dan menghadapi ancaman dari oposisi, referendum sepertinya akan berjalan mulus mendukung perpanjangan kekuasaan bagi Putin. Meskipun tingkat pengangguran yang tinggi, ekonomi yang melemah karena virus corona, dan tidak ada prospek ekonomi yang cerah, Putin ttap akan melenggang. (Baca juga: Waspada, Ancaman Gelombang Kedua Covid-19 di Depan Mata)

“Putin tidak akan memiliki jalan mudah untuk memperbaiki ekonomi yang stagnan,” demikian analisis Eurasia Group, konsultan risiko politik. “Putin akan menemukan hal sulit dalamperbaikan ekonomi,” katanya.

Pada Januari 2020, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menggagas agar konstitusi diamandemen berdasarkan pemungutan suara rakyat. Salah satu hal yang diamandemen adalah masa jabatan presiden diperpanjang dua masa jabatan, sehingga Putin bisa kembali menjadi presiden. Referendum, yang semula dijadwalkan digelar pada 22 April dan ditunda akibat karantina wilayah terkait virus corona, kini akan dihelat pada 1 Juli.

Agar rakyat bisa memberikan suara mereka seraya mematuhi kebijakan social distancing, referendum bakal dilangsungkan selama lima hari di seluruh Rusia, bahkan di wilayah-wilayah yang banyak mencatat kasus positif Covid-19. Panitia pelaksanaan referendum akan membatasi jumlah orang yang bisa memasuki tempat pemungutan suara dalam periode tertentu. Kemudian di beberapa wilayah, termasuk Moskow, panitia menyediakan sistem pemungutan suara elektronik. (Lihat videonya: Rapid Test Reaktif, Warga Isolasi Diri di Tengah Pekuburan di Sragen)

Putin memiliki banyak pendukung. Salah satu pendukung kuat Putin, mantan kosmonaut Soviet dan anggota parlemen, Valentina Tereshkova, telah mengusulkan agar masa jabatan presiden "kembali ke nol" sehingga Putin bisa berkuasa lagi. Dukungan rakyat Rusia diperkirakan masih kuat. Terakhir kali bersaing dalam pilpres pada 2018 lalu, Putin mendulang lebih dari 76% suara. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak