alexametrics

Covid-19 di AS: Total 101.573 Meninggal, 1.297 Nyawa dalam 24 Jam

loading...
Covid-19 di AS: Total 101.573 Meninggal, 1.297 Nyawa dalam 24 Jam
Petugas kesehatan mengevakusi jenazah yang meninggal dari Wyckoff Heights Medical Center selama pandemi Covid-19 di wilayah Brooklyn di New York City, New York, Amerika Serikat, 4 April 2020. Foto/REUTERS/Andrew Kelly/File Photo
A+ A-
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mencatat rekor kematian 1.297 orang terkait Covid-19 dalam 24 jam terakhir pada Kamis. Data itu menambah jumlah kematian di Amerika menjadi 101.573 orang sejak pandemi global dimulai.

Angka kematian di Amerika tersebut bersumber dari penghitungan John Hopkins University.

Menurut data yang dikutip SINDOnews.com dari situs web pusat data virus corona John Hopkins University pada Jumat (29/5/2020), Amerika memiliki 1.720.613 kasus Covid-19, 101.573 kematian dan sebanyak 399.991 pasien berhasil disembuhkan.



Angka itu masih menjadikan AS sebagai negara dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak di dunia, disusul kemudian oleh Brasil dengan 438.238 kasus dan Rusia 379.051 kasus.

Sementara itu, sebuah penelitian terbaru tentang dampak Covid-19 menyatakan orang dengan sakit kanker memiliki potensi meninggal lebih besar ketimbang mereka yang tidak menderita kanker. (Baca: Viral, Perawat Covid-19 Bercelana Dalam dengan APD Transparan)

Data pada lebih dari 900 pasien di AS, Kanada dan Spanyol yang muncul dalam sebuah makalah di The Lancet, menemukan bahwa kematian meningkat pada pasien kanker.

Pasien kanker dengan penurunan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas kehidupan sehari-hari lebih berisiko daripada mereka dengan fungsionalitas yang lebih tinggi.

Penulis makalah ini melihat berapa banyak orang yang meninggal dalam waktu 30 hari didiagnosis dengan Covid-19 dari semua penyebab.

"Kematian semua penyebab 30 hari adalah 13 persen, lebih dari dua kali kematian yang dilaporkan sebagai rata-rata global oleh Johns Hopkins," kata Toni Choueiri, seorang ahli kanker di Institut Kanker Dana-Farber yang turut menulis makalah itu kepada AFP.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak