Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:24 WIB
loading...
Sistem pertahanan udara S-400. Foto/anadolu
A
A
A
MOSKOW - Pemerintah Rusia memandang potensi penjualan sistem pertahanan udara S-400 yang saat ini dioperasikan oleh Turki ke Uni Emirat Arab secara "positif". Kabar itu menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini kepada Middle East Eye. Sumber itu memperingatkan negosiasi belum selesai.
Sistem S-400 Rusia, yang dibeli Turki pada tahun 2019, telah menjadi masalah besar bagi Ankara. Akuisisi tersebut menyebabkan Turki dikeluarkan dari program jet tempur generasi kelima F-35 dan memicu serangkaian sanksi AS terhadap industri pertahanan Turki.
AS masih menyimpan enam jet tersebut, karena transfernya ke Turki juga diblokir oleh undang-undang AS pada tahun 2020.
Saat AS dan Turki memperbaiki hubungan setelah kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan pada tahun 2025, masalah S-400, dan kemungkinan kembalinya Turki ke program F-35, telah menjadi topik diskusi yang sangat penting.
Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional 2020 mewajibkan pemerintah AS untuk memastikan Turki tidak lagi memiliki sistem S-400 sebelum diizinkan menerima jet F-35.
Undang-undang tersebut juga memperketat persyaratan untuk pencabutan sanksi yang dikenakan pada Turki oleh Trump pada tahun 2019.
Selama satu setengah tahun terakhir, kedua pihak telah membahas solusi potensial.
Salah satu opsi adalah menonaktifkan S-400 dengan melepas komponen-komponen kunci dan menyimpannya di lokasi yang aman berkoordinasi dengan pemerintah AS, menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini kepada MEE.
Namun, opsi tersebut kemudian dianggap tidak cukup sebagai solusi akhir, karena hanya dapat mengamankan pengecualian dan bukan penghentian penuh sanksi yang dikenakan pada Ankara.
Sumber-sumber Rusia dan Turki yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada MEE bahwa negosiasi mengenai penjualan kembali sistem tersebut ke negara ketiga, UEA, telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Dalam pernyataan pada hari Jumat, Kremlin mengkonfirmasi laporan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan Turki mengenai penjualan sistem tersebut ke negara ketiga.
Dmitry Peskov, juru bicara kepresidenan, mengatakan masalah ini sangat sensitif dan konsultasi akan terus berlanjut untuk sementara waktu.
“Tanggapan Moskow terhadap gagasan Turki untuk menjual sistem tersebut ke negara ketiga adalah: mengapa tidak?” kata satu sumber Rusia. “Ada beberapa detail yang perlu diselesaikan, dan keputusan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin harus dibuat.”
Sumber tersebut menambahkan jika UEA akhirnya melakukan pembelian, akan sangat penting bagi Rusia untuk sepenuhnya menerima dan mematuhi ketentuan kontrak yang ditandatangani dengan Ankara. “Moskow akan meneliti hal ini,” kata sumber tersebut.
Beberapa sumber Turki menunjukkan UEA sudah mengoperasikan beberapa sistem pertahanan udara Rusia, seperti Pantsir.
Mereka menambahkan Abu Dhabi telah melakukan diversifikasi pengadaan senjatanya dari berbagai negara untuk memperkuat kemampuan pertahanan secara keseluruhan.
Namun, seorang investor Eropa mengatakan kepada MEE bahwa ada juga ketegangan yang mendasari antara UEA dan Rusia terkait dukungan Moskow untuk Iran selama perang, karena Teheran telah mengirimkan drone dan rudal balistik ke negara Teluk tersebut.
Penjualan tersebut tidak akan tercakup oleh sanksi AS, karena kesepakatan tersebut akan dilakukan antara Turki dan UEA, bukan dengan Rusia.
Menurut sumber-sumber tersebut, Moskow sebelumnya menolak mengambil kembali sistem Turki, meskipun ada laporan yang menyatakan sebaliknya.
Pengumuman yang direncanakan Turki pada hari Jumat yang menyatakan kepada publik bahwa Ankara telah memulai pembicaraan untuk menjual sistem tersebut ke negara ketiga dibatalkan, menurut sebuah sumber, yang tidak menyebutkan alasannya.
Motivasi Rusia untuk mengizinkan langkah tersebut masih belum jelas. Orang-orang dalam Ankara berspekulasi Moskow dapat meminta beberapa konsesi dari Turki sebagai imbalannya. Misalnya, kesepakatan gas penting Turki dengan Rusia belum diperbarui, dan negosiasi mengenai masalah ini masih berlanjut.
Baca juga: Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
Sistem S-400 Rusia, yang dibeli Turki pada tahun 2019, telah menjadi masalah besar bagi Ankara. Akuisisi tersebut menyebabkan Turki dikeluarkan dari program jet tempur generasi kelima F-35 dan memicu serangkaian sanksi AS terhadap industri pertahanan Turki.
AS masih menyimpan enam jet tersebut, karena transfernya ke Turki juga diblokir oleh undang-undang AS pada tahun 2020.
Saat AS dan Turki memperbaiki hubungan setelah kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan pada tahun 2025, masalah S-400, dan kemungkinan kembalinya Turki ke program F-35, telah menjadi topik diskusi yang sangat penting.
Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional 2020 mewajibkan pemerintah AS untuk memastikan Turki tidak lagi memiliki sistem S-400 sebelum diizinkan menerima jet F-35.
Undang-undang tersebut juga memperketat persyaratan untuk pencabutan sanksi yang dikenakan pada Turki oleh Trump pada tahun 2019.
Selama satu setengah tahun terakhir, kedua pihak telah membahas solusi potensial.
Salah satu opsi adalah menonaktifkan S-400 dengan melepas komponen-komponen kunci dan menyimpannya di lokasi yang aman berkoordinasi dengan pemerintah AS, menurut beberapa sumber yang mengetahui masalah ini kepada MEE.
Namun, opsi tersebut kemudian dianggap tidak cukup sebagai solusi akhir, karena hanya dapat mengamankan pengecualian dan bukan penghentian penuh sanksi yang dikenakan pada Ankara.
Sumber-sumber Rusia dan Turki yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada MEE bahwa negosiasi mengenai penjualan kembali sistem tersebut ke negara ketiga, UEA, telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Dalam pernyataan pada hari Jumat, Kremlin mengkonfirmasi laporan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan Turki mengenai penjualan sistem tersebut ke negara ketiga.
Dmitry Peskov, juru bicara kepresidenan, mengatakan masalah ini sangat sensitif dan konsultasi akan terus berlanjut untuk sementara waktu.
“Tanggapan Moskow terhadap gagasan Turki untuk menjual sistem tersebut ke negara ketiga adalah: mengapa tidak?” kata satu sumber Rusia. “Ada beberapa detail yang perlu diselesaikan, dan keputusan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin harus dibuat.”
Sumber tersebut menambahkan jika UEA akhirnya melakukan pembelian, akan sangat penting bagi Rusia untuk sepenuhnya menerima dan mematuhi ketentuan kontrak yang ditandatangani dengan Ankara. “Moskow akan meneliti hal ini,” kata sumber tersebut.
Beberapa sumber Turki menunjukkan UEA sudah mengoperasikan beberapa sistem pertahanan udara Rusia, seperti Pantsir.
Mereka menambahkan Abu Dhabi telah melakukan diversifikasi pengadaan senjatanya dari berbagai negara untuk memperkuat kemampuan pertahanan secara keseluruhan.
Namun, seorang investor Eropa mengatakan kepada MEE bahwa ada juga ketegangan yang mendasari antara UEA dan Rusia terkait dukungan Moskow untuk Iran selama perang, karena Teheran telah mengirimkan drone dan rudal balistik ke negara Teluk tersebut.
Penjualan tersebut tidak akan tercakup oleh sanksi AS, karena kesepakatan tersebut akan dilakukan antara Turki dan UEA, bukan dengan Rusia.
Menurut sumber-sumber tersebut, Moskow sebelumnya menolak mengambil kembali sistem Turki, meskipun ada laporan yang menyatakan sebaliknya.
Pengumuman yang direncanakan Turki pada hari Jumat yang menyatakan kepada publik bahwa Ankara telah memulai pembicaraan untuk menjual sistem tersebut ke negara ketiga dibatalkan, menurut sebuah sumber, yang tidak menyebutkan alasannya.
Motivasi Rusia untuk mengizinkan langkah tersebut masih belum jelas. Orang-orang dalam Ankara berspekulasi Moskow dapat meminta beberapa konsesi dari Turki sebagai imbalannya. Misalnya, kesepakatan gas penting Turki dengan Rusia belum diperbarui, dan negosiasi mengenai masalah ini masih berlanjut.
Baca juga: Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
(sya)
Lihat Juga :