AS Bombardir Iran 2 Hari Beruntun, Ledakan Terjadi di Mana-mana
Kamis, 09 Juli 2026 - 06:56 WIB
loading...
Militer AS kembali membombardir wilayah Iran selatan pada Kamis (9/7/2026) dini hari, yang menjadi serangan dua hari beruntun. Foto/X @CENTCOM
A
A
A
TEHERAN - Amerika Serikat (AS) telah membombardir wilayah Iran pada Kamis (9/7/2026) dini hari, yang menjadi serangan dua hari beruntun. Serangan hari kedua diluncurkan setelah Presiden Amerika Donald Trump mengatakan gencatan senjata yang rapuh pada dasarnya telah berakhir.
Permusuhan kembali pecah setelah AS dan sekutu Arabnya di kawasan itu menyalahkan Iran atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Dalam sebuah pernyataan di X, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, "Pasukan AS melakukan serangan tambahan terhadap Iran untuk lebih melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.”
“Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan baru-baru ini terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang bebas berlayar di jalur air internasional yang vital,” kata CENTCOM.
Media-media Iran melaporkan ledakan di sepanjang pantai selatan, termasuk di kota-kota pelabuhan Bushehr, Chabahar, dan Konarak, serta di Pulau Lavan. Setidaknya dua ledakan tercatat di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.
Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan serangan di Chabahar, di mana media Iran melaporkan bahwa menara kontrol maritim telah menjadi sasaran.
Menurut lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, serangan di Chabahar, pelabuhan terbesar di negara itu, juga merusak Rumah Sakit Imam Ali dan memutuskan jalur listrik utama. Namun, jaringan listrik telah dipulihkan sebagian.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kebakaran besar di Bushehr.
Serangan itu terjadi selama prosesi pemakaman yang berlangsung selama seminggu untuk mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—yang tewas selama gelombang pertama kampanye pengeboman AS-Israel pada 28 Februari. Kerumunan besar menghadiri acara-acara tersebut di seluruh Iran dan Irak.
Trump mengeluarkan peringatan kepada Iran tak lama setelah serangan dimulai. “Ini sebagai pembalasan atas pengeboman kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” tulisnya di Truth Social.
Beberapa jam sebelumnya, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran pada dasarnya telah berakhir. “Saya pikir sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah,” katanya kepada wartawan selama pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Turki.
Sementara itu, Mohsen Rezaei, penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, bersumpah akan memberikan “hukuman berat” atas serangan AS tersebut.
AS mengatakan telah menyerang lebih dari 80 target di Iran pada hari Rabu setelah tiga kapal komersial terkena proyektil. Meskipun Teheran tidak mengeklaim tanggung jawab atas insiden tersebut, media Iran melaporkan bahwa kapal-kapal tersebut telah mencoba melewati Selat Hormuz yang strategis tanpa izin.
AS dan Iran telah berselisih mengenai interpretasi nota kesepahaman (MoU) yang mereka tandatangani pada 17 Juni. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk membuat pengaturan dengan upaya terbaiknya untuk jalur aman kapal komersial melintasi Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Iran dan Oman akan memulai negosiasi untuk menentukan administrasi dan layanan maritim di masa depan di jalur perairan tersebut. Iran telah berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk mengatur lalu lintas dan memungut bea.
Permusuhan kembali pecah setelah AS dan sekutu Arabnya di kawasan itu menyalahkan Iran atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
Dalam sebuah pernyataan di X, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, "Pasukan AS melakukan serangan tambahan terhadap Iran untuk lebih melemahkan kemampuan mereka mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.”
“Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan baru-baru ini terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang bebas berlayar di jalur air internasional yang vital,” kata CENTCOM.
Media-media Iran melaporkan ledakan di sepanjang pantai selatan, termasuk di kota-kota pelabuhan Bushehr, Chabahar, dan Konarak, serta di Pulau Lavan. Setidaknya dua ledakan tercatat di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.
Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan serangan di Chabahar, di mana media Iran melaporkan bahwa menara kontrol maritim telah menjadi sasaran.
Menurut lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, serangan di Chabahar, pelabuhan terbesar di negara itu, juga merusak Rumah Sakit Imam Ali dan memutuskan jalur listrik utama. Namun, jaringan listrik telah dipulihkan sebagian.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kebakaran besar di Bushehr.
Serangan itu terjadi selama prosesi pemakaman yang berlangsung selama seminggu untuk mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—yang tewas selama gelombang pertama kampanye pengeboman AS-Israel pada 28 Februari. Kerumunan besar menghadiri acara-acara tersebut di seluruh Iran dan Irak.
Trump mengeluarkan peringatan kepada Iran tak lama setelah serangan dimulai. “Ini sebagai pembalasan atas pengeboman kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” tulisnya di Truth Social.
Beberapa jam sebelumnya, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran pada dasarnya telah berakhir. “Saya pikir sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah,” katanya kepada wartawan selama pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Turki.
Sementara itu, Mohsen Rezaei, penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, bersumpah akan memberikan “hukuman berat” atas serangan AS tersebut.
AS mengatakan telah menyerang lebih dari 80 target di Iran pada hari Rabu setelah tiga kapal komersial terkena proyektil. Meskipun Teheran tidak mengeklaim tanggung jawab atas insiden tersebut, media Iran melaporkan bahwa kapal-kapal tersebut telah mencoba melewati Selat Hormuz yang strategis tanpa izin.
AS dan Iran telah berselisih mengenai interpretasi nota kesepahaman (MoU) yang mereka tandatangani pada 17 Juni. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran setuju untuk membuat pengaturan dengan upaya terbaiknya untuk jalur aman kapal komersial melintasi Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Iran dan Oman akan memulai negosiasi untuk menentukan administrasi dan layanan maritim di masa depan di jalur perairan tersebut. Iran telah berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk mengatur lalu lintas dan memungut bea.
(mas)
Lihat Juga :