Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Rabu, 08 Juli 2026 - 11:48 WIB
loading...
Asap mengepul dari lokasi yang diserang rudal Iran di Manama, Bahrain. Foto/anadolu
A
A
A
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pasukan angkatan laut dan udaranya telah melakukan operasi gabungan rudal dan drone yang menargetkan 85 situs di “fasilitas militer Amerika Serikat yang penting”. Serangan Iran itu sebagai pembalasan terhadap serangan AS sebelumnya.
IRGC mengatakan serangan tersebut menghantam pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Dikatakan bahwa operasi tersebut merupakan “respons awal” terhadap apa yang disebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata dan perjanjian Islamabad oleh AS, setelah serangan udara AS terhadap pangkalan pesisir dan stasiun non-militer di Hormozgan dan Mahshahr sebelumnya hari ini.
IRGC juga mengaitkan serangan AS dengan prosesi pemakaman pemimpin Iran yang telah meninggal, dengan mengatakan Washington mencoba menutupi “peristiwa bersejarah” tersebut.
AS telah melancarkan serangan baru terhadap Iran meskipun Presiden AS Donald Trump berjanji menghentikan serangan selama pemakaman 7 hari Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamanei.
Washington mengatakan mereka menanggapi serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Pada 24 Juni, Oman dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB mengumumkan koridor sementara baru di Selat Hormuz, di sepanjang pantai Oman, yang diawasi oleh AS, untuk evakuasi kapal-kapal yang terdampar di Teluk.
Militer Iran segera menolak langkah tersebut, dengan mengatakan rute tersebut diumumkan tanpa konsultasi. Iran memperingatkan kapal-kapal untuk hanya menggunakan koridor yang disetujui oleh Teheran.
Beberapa hari kemudian, dua kapal yang menggunakan rute Oman diserang, memaksa penghentian rencana evakuasi IMO.
AS menanggapi dengan serangan di pantai selatan Iran pada 26 dan 27 Juni, yang mendorong Teheran membalas dengan menembakkan rudal ke arah pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait.
Kedua pihak menghentikan permusuhan pada 28 Juni dan mengadakan pembicaraan teknis tidak langsung lebih lanjut di Qatar pada 1 Juli.
Namun pada hari Selasa, tiga kapal lagi diserang di Selat Hormuz, yang mendorong AS untuk melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran. Teheran membalas dengan lebih banyak serangan terhadap Bahrain dan Kuwait.
Iran bersikeras MoU dengan AS memberikan tanggung jawab penuh kepada Iran untuk mengawasi dan mengelola pelayaran di selat tersebut.
Militer Iran mengatakan setiap kapal yang melintasi jalur air tersebut harus menggunakan rute yang "diizinkan" atau menghadapi "tanggapan keras".
Baca juga: AS Serang 80 Target di Iran, Teheran Ancam Pembalasan yang Menghancurkan
IRGC mengatakan serangan tersebut menghantam pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al-Salem di Kuwait.
Dikatakan bahwa operasi tersebut merupakan “respons awal” terhadap apa yang disebutnya sebagai pelanggaran gencatan senjata dan perjanjian Islamabad oleh AS, setelah serangan udara AS terhadap pangkalan pesisir dan stasiun non-militer di Hormozgan dan Mahshahr sebelumnya hari ini.
IRGC juga mengaitkan serangan AS dengan prosesi pemakaman pemimpin Iran yang telah meninggal, dengan mengatakan Washington mencoba menutupi “peristiwa bersejarah” tersebut.
AS telah melancarkan serangan baru terhadap Iran meskipun Presiden AS Donald Trump berjanji menghentikan serangan selama pemakaman 7 hari Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamanei.
Washington mengatakan mereka menanggapi serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Pada 24 Juni, Oman dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB mengumumkan koridor sementara baru di Selat Hormuz, di sepanjang pantai Oman, yang diawasi oleh AS, untuk evakuasi kapal-kapal yang terdampar di Teluk.
Militer Iran segera menolak langkah tersebut, dengan mengatakan rute tersebut diumumkan tanpa konsultasi. Iran memperingatkan kapal-kapal untuk hanya menggunakan koridor yang disetujui oleh Teheran.
Beberapa hari kemudian, dua kapal yang menggunakan rute Oman diserang, memaksa penghentian rencana evakuasi IMO.
AS menanggapi dengan serangan di pantai selatan Iran pada 26 dan 27 Juni, yang mendorong Teheran membalas dengan menembakkan rudal ke arah pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait.
Kedua pihak menghentikan permusuhan pada 28 Juni dan mengadakan pembicaraan teknis tidak langsung lebih lanjut di Qatar pada 1 Juli.
Namun pada hari Selasa, tiga kapal lagi diserang di Selat Hormuz, yang mendorong AS untuk melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran. Teheran membalas dengan lebih banyak serangan terhadap Bahrain dan Kuwait.
Iran bersikeras MoU dengan AS memberikan tanggung jawab penuh kepada Iran untuk mengawasi dan mengelola pelayaran di selat tersebut.
Militer Iran mengatakan setiap kapal yang melintasi jalur air tersebut harus menggunakan rute yang "diizinkan" atau menghadapi "tanggapan keras".
Baca juga: AS Serang 80 Target di Iran, Teheran Ancam Pembalasan yang Menghancurkan
(sya)
Lihat Juga :