AS Kirim Kapal Perang Delbert D Black Gabung Kapal Induk Abraham Lincoln, Iran Makin Terancam
Jum'at, 30 Januari 2026 - 10:10 WIB
loading...
A
A
A
Di luar Timur Tengah, AS juga memiliki satu kapal perusak—USS Roosevelt (DDG-80)—di Laut Mediterania.
Peningkatan jumlah kapal Angkatan Laut AS di Timur Tengah terjadi ketika Iran sedang di ambang perang dengan Amerika.
Kepala Pentagon Pete Hegseth mengatakan militer AS sudah siap untuk melaksanakan apa pun yang diputuskan Presiden Donald Trump, termasuk menyerang Iran. Opsi menyerang Iran itu untuk memastikan bahwa Teheran tidak memiliki kemampuan untuk membuat senjata nuklir.
Kesiapan militer AS itu disampaikan Hegseth dalam laporannya kepada Presiden Trump dalam rapat kabinet. "Mereka seharusnya tidak mengejar kemampuan nuklir. Kami akan siap untuk memenuhi apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang,” kata Hegseth, merujuk pada perubahan nama tidak resmi Departemen Pertahanan oleh pemerintahan Trump, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/1/2026).
Para pejabat AS mengatakan Trump sedang meninjau opsi-opsinya tetapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran.
Ketegangan AS-Iran meningkat tajam setelah penindakan keras terhadap protes di seluruh Iran oleh otoritas setempat dalam beberapa pekan terakhir. Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika Iran terus membunuh para demonstran, tetapi demonstrasi di seluruh negeri atas kesulitan ekonomi dan penindasan politik telah mereda.
Dia mengatakan AS akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya setelah serangan udara pada bulan Juni 2025 oleh pasukan Israel dan AS terhadap instalasi nuklir utama.
Sementara itu, di Iran, sebanyak 1.000 UAV atau drone baru telah diterima oleh berbagai cabang Angkatan Darat di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan.
Peningkatan jumlah kapal Angkatan Laut AS di Timur Tengah terjadi ketika Iran sedang di ambang perang dengan Amerika.
Kepala Pentagon Pete Hegseth mengatakan militer AS sudah siap untuk melaksanakan apa pun yang diputuskan Presiden Donald Trump, termasuk menyerang Iran. Opsi menyerang Iran itu untuk memastikan bahwa Teheran tidak memiliki kemampuan untuk membuat senjata nuklir.
Kesiapan militer AS itu disampaikan Hegseth dalam laporannya kepada Presiden Trump dalam rapat kabinet. "Mereka seharusnya tidak mengejar kemampuan nuklir. Kami akan siap untuk memenuhi apa pun yang diharapkan presiden dari Departemen Perang,” kata Hegseth, merujuk pada perubahan nama tidak resmi Departemen Pertahanan oleh pemerintahan Trump, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (30/1/2026).
Para pejabat AS mengatakan Trump sedang meninjau opsi-opsinya tetapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran.
Ketegangan AS-Iran meningkat tajam setelah penindakan keras terhadap protes di seluruh Iran oleh otoritas setempat dalam beberapa pekan terakhir. Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika Iran terus membunuh para demonstran, tetapi demonstrasi di seluruh negeri atas kesulitan ekonomi dan penindasan politik telah mereda.
Dia mengatakan AS akan bertindak jika Teheran melanjutkan program nuklirnya setelah serangan udara pada bulan Juni 2025 oleh pasukan Israel dan AS terhadap instalasi nuklir utama.
Sementara itu, di Iran, sebanyak 1.000 UAV atau drone baru telah diterima oleh berbagai cabang Angkatan Darat di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan.
Lihat Juga :