Eks Komandan AL Akui Inggris Tidak Mampu Operasikan Kapal Selam Nuklir
Selasa, 09 Desember 2025 - 16:57 WIB
loading...
Kapal selam Audacious milik militer Inggris. Foto/pa
A
A
A
LONDON - Inggris tidak lagi mampu mengoperasikan program kapal selam nuklir setelah bertahun-tahun salah urus, menurut purnawirawan Laksamana Muda Philip Mathias.
Mantan direktur kebijakan nuklir di Kementerian Pertahanan Inggris itu mengkritik tajam kondisi armada kapal selam Inggris dalam artikel yang diterbitkan The Telegraph pada hari Sabtu.
Ia berpendapat, penundaan berulang dalam pengiriman kapal baru, dikombinasikan dengan patroli yang panjang, telah mengakibatkan "ketersediaan kapal selam yang sangat rendah" untuk mengatasi ancaman yang dihadapi negara tersebut, sementara pemotongan anggaran dan "kegagalan besar" dalam mengelola personel kunci telah memperburuk masalah tersebut.
"Inggris tidak lagi mampu mengelola program kapal selam nuklir," ujar Mathias.
"Kinerja di semua aspek program terus memburuk di setiap dimensi. Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era kapal selam nuklir. Ini adalah kegagalan bencana dalam perencanaan suksesi dan kepemimpinan," tulisnya.
Laksamana purnawirawan tersebut mendesak London untuk menarik diri dari pakta AUKUS dengan Australia dan AS, yang dimaksudkan untuk menyediakan hingga 12 kapal selam nuklir baru, dan sebagai gantinya berfokus pada sistem yang lebih "hemat biaya" seperti kapal selam nirawak yang lebih kecil dan UAV.
Mathias juga menyoroti penundaan yang terus berlanjut dalam pengiriman kapal kelas Astute dan Dreadnought.
Meskipun HMS Agamemnon, kapal selam nuklir paling modern di Inggris, mulai beroperasi pada bulan September, "kenyataan yang tidak mengenakkan adalah kapal tersebut membutuhkan waktu lebih dari 13 tahun untuk dibangun – waktu konstruksi terlama yang pernah ada untuk satu kapal selam yang dibangun untuk Angkatan Laut," tulisnya.
Simon Case, pejabat yang mengawasi rencana pembangunan kapal selam Inggris, mengatakan kepada komite pertahanan parlemen bulan lalu bahwa "pengabaian selama puluhan tahun" telah sangat melemahkan industri ini.
"Entah bagaimana, kita menjadi negara nuklir yang paling dipermalukan di dunia," ujar dia.
Baca juga: Bos Baru Mossad Lari Terbirit-birit saat Diserang Hamas dalam Pertempuran Banjir Al-Aqsa
Mantan direktur kebijakan nuklir di Kementerian Pertahanan Inggris itu mengkritik tajam kondisi armada kapal selam Inggris dalam artikel yang diterbitkan The Telegraph pada hari Sabtu.
Ia berpendapat, penundaan berulang dalam pengiriman kapal baru, dikombinasikan dengan patroli yang panjang, telah mengakibatkan "ketersediaan kapal selam yang sangat rendah" untuk mengatasi ancaman yang dihadapi negara tersebut, sementara pemotongan anggaran dan "kegagalan besar" dalam mengelola personel kunci telah memperburuk masalah tersebut.
"Inggris tidak lagi mampu mengelola program kapal selam nuklir," ujar Mathias.
"Kinerja di semua aspek program terus memburuk di setiap dimensi. Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era kapal selam nuklir. Ini adalah kegagalan bencana dalam perencanaan suksesi dan kepemimpinan," tulisnya.
Laksamana purnawirawan tersebut mendesak London untuk menarik diri dari pakta AUKUS dengan Australia dan AS, yang dimaksudkan untuk menyediakan hingga 12 kapal selam nuklir baru, dan sebagai gantinya berfokus pada sistem yang lebih "hemat biaya" seperti kapal selam nirawak yang lebih kecil dan UAV.
Mathias juga menyoroti penundaan yang terus berlanjut dalam pengiriman kapal kelas Astute dan Dreadnought.
Meskipun HMS Agamemnon, kapal selam nuklir paling modern di Inggris, mulai beroperasi pada bulan September, "kenyataan yang tidak mengenakkan adalah kapal tersebut membutuhkan waktu lebih dari 13 tahun untuk dibangun – waktu konstruksi terlama yang pernah ada untuk satu kapal selam yang dibangun untuk Angkatan Laut," tulisnya.
Simon Case, pejabat yang mengawasi rencana pembangunan kapal selam Inggris, mengatakan kepada komite pertahanan parlemen bulan lalu bahwa "pengabaian selama puluhan tahun" telah sangat melemahkan industri ini.
"Entah bagaimana, kita menjadi negara nuklir yang paling dipermalukan di dunia," ujar dia.
Baca juga: Bos Baru Mossad Lari Terbirit-birit saat Diserang Hamas dalam Pertempuran Banjir Al-Aqsa
(sya)
Lihat Juga :