Iran Kecam AS karena Tutup Wilayah Udara Venezuela, Peringatkan Konsekuensinya
Minggu, 30 November 2025 - 10:38 WIB
loading...
Iran kecam Amerika Serikat karena secara sepihak menutup wilayah udara Venezuela. Foto/via Iran International
A
A
A
TEHERAN - Pemerintah Iran mengecam pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang penutupan wilayah udara Venezuela. Teheran menilai tindakan Washington itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan ancaman bagi keselamatan penerbangan global.
"Langkah sepihak Trump merupakan pelanggaran mencolok terhadap norma-norma internasional yang mengatur transportasi udara lintas batas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei.
"Tindakan AS ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan provokatif dan ilegal yang telah diambil Washington terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah Venezuela," lanjut Baqaei, sebagaimana dikutip dari Iran International, Minggu (30/11/2025).
Baca Juga: Ini Respons Venezuela setelah Wilayah Udaranya Ditutup AS
Trump mengumumkan pada hari Sabtu bahwa semua wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela harus dianggap ditutup sepenuhnya, tanpa memberikan rincian tambahan karena Washington meningkatkan tekanan pada pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.
"Kepada semua maskapai penerbangan, pilot, pengedar narkoba, dan pedagang manusia, mohon pertimbangkan wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela akan ditutup seluruhnya," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Baqaei memperingatkan bahwa tindakan AS tersebut menimbulkan risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keselamatan penerbangan internasional dan dapat menimbulkan konsekuensi berbahaya bagi supremasi hukum, serta bagi perdamaian dan keamanan global.
Dia mendesak masyarakat internasional untuk memperhatikan apa yang disebutnya sebagai langkah destabilisasi yang merusak prinsip-prinsip perilaku internasional yang telah lama berlaku.
Sementara itu, laporan Reuters mengatakan para pejabat Amerika yang dihubungi terkejut dengan pengumuman Trump dan tidak mengetahui adanya operasi militer AS yang sedang berlangsung untuk menegakkan penutupan wilayah udara Venezuela.
Jenderal pensiunan bintang empat dan mantan komandan Komando Pusat AS, Joseph Votel, mengatakan dalam podcast Eye for Iran bahwa peningkatan kekuatan militer AS yang besar di Karibia bertujuan untuk memberikan tekanan tidak hanya pada Venezuela tetapi juga pada sesama musuh Amerika Serikat seperti Iran.
Votel, yang mengawasi operasi Amerika di Timur Tengah dari Maret 2016 hingga Maret 2019, menekankan bahwa tujuan utamanya adalah melawan perdagangan narkotika.
Namun, imbuh Votel, unjuk kekuatan ini juga dapat bertujuan untuk menghalangi musuh bebuyutan Washington di Timur Tengah.
"Kehadiran kapal induk adalah pesan penting yang kami kirimkan tidak hanya ke kawasan ini, tetapi juga kepada pihak lain yang akan menjadi pendukung Venezuela," katanya.
"Venezuela telah menjadi tempat di mana...kami telah melihat penasihat Iran, Garda Revolusi, Pasukan Quds, dan pihak-pihak lain dalam jangka waktu yang lama yang mengembangkan hubungan."
"Langkah sepihak Trump merupakan pelanggaran mencolok terhadap norma-norma internasional yang mengatur transportasi udara lintas batas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei.
"Tindakan AS ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan provokatif dan ilegal yang telah diambil Washington terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah Venezuela," lanjut Baqaei, sebagaimana dikutip dari Iran International, Minggu (30/11/2025).
Baca Juga: Ini Respons Venezuela setelah Wilayah Udaranya Ditutup AS
Trump mengumumkan pada hari Sabtu bahwa semua wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela harus dianggap ditutup sepenuhnya, tanpa memberikan rincian tambahan karena Washington meningkatkan tekanan pada pemerintahan Presiden Nicolás Maduro.
"Kepada semua maskapai penerbangan, pilot, pengedar narkoba, dan pedagang manusia, mohon pertimbangkan wilayah udara di atas dan di sekitar Venezuela akan ditutup seluruhnya," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
Baqaei memperingatkan bahwa tindakan AS tersebut menimbulkan risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keselamatan penerbangan internasional dan dapat menimbulkan konsekuensi berbahaya bagi supremasi hukum, serta bagi perdamaian dan keamanan global.
Dia mendesak masyarakat internasional untuk memperhatikan apa yang disebutnya sebagai langkah destabilisasi yang merusak prinsip-prinsip perilaku internasional yang telah lama berlaku.
Sementara itu, laporan Reuters mengatakan para pejabat Amerika yang dihubungi terkejut dengan pengumuman Trump dan tidak mengetahui adanya operasi militer AS yang sedang berlangsung untuk menegakkan penutupan wilayah udara Venezuela.
Jenderal pensiunan bintang empat dan mantan komandan Komando Pusat AS, Joseph Votel, mengatakan dalam podcast Eye for Iran bahwa peningkatan kekuatan militer AS yang besar di Karibia bertujuan untuk memberikan tekanan tidak hanya pada Venezuela tetapi juga pada sesama musuh Amerika Serikat seperti Iran.
Votel, yang mengawasi operasi Amerika di Timur Tengah dari Maret 2016 hingga Maret 2019, menekankan bahwa tujuan utamanya adalah melawan perdagangan narkotika.
Namun, imbuh Votel, unjuk kekuatan ini juga dapat bertujuan untuk menghalangi musuh bebuyutan Washington di Timur Tengah.
"Kehadiran kapal induk adalah pesan penting yang kami kirimkan tidak hanya ke kawasan ini, tetapi juga kepada pihak lain yang akan menjadi pendukung Venezuela," katanya.
"Venezuela telah menjadi tempat di mana...kami telah melihat penasihat Iran, Garda Revolusi, Pasukan Quds, dan pihak-pihak lain dalam jangka waktu yang lama yang mengembangkan hubungan."
(mas)
Lihat Juga :