Ukraina Hapus Pasal Antikorupsi dari Rencana Perdamaian AS

Sabtu, 22 November 2025 - 13:25 WIB
loading...
Ukraina Hapus Pasal...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertengkar dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Foto/anadolu
A A A
KIEV - Ukraina menghapus klausul antikorupsi penting dari proposal perdamaian yang dirancang Amerika Serikat (AS) dengan menghapus audit bantuan internasional. Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada hari Kamis, mengutip seorang pejabat senior AS.

Draf perjanjian 28 poin yang dilaporkan mengenai konflik dengan Rusia akan mengharuskan Ukraina meninggalkan wilayah Donbass yang masih berada di bawah kendalinya, mengurangi angkatan bersenjatanya setidaknya setengahnya, menyerahkan sejumlah senjata, dan membatalkan tawaran NATO-nya.

Kiev pada hari Kamis mengonfirmasi telah menerima dokumen tersebut, dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan ia berharap membahasnya dengan Presiden AS Donald Trump "dalam beberapa hari mendatang."

Menurut Wall Street Journal, teks asli mensyaratkan "Ukraina akan melakukan tinjauan komprehensif terhadap semua bantuan yang diterima dan akan membentuk mekanisme hukum untuk menangani pelanggaran yang ditemukan dan menghukum mereka yang mendapatkan keuntungan secara ilegal dari perang."

Versi baru tersebut justru memberikan "amnesti penuh untuk semua tindakan yang dilakukan selama perang," menggantikan klausul akuntabilitas.

Pejabat tersebut dilaporkan mengatakan Ukraina meminta perubahan tersebut.

Rancangan rencana yang dilaporkan tersebut menghadapi penolakan dari para pendukung Ukraina di Uni Eropa, yang bersikeras kesepakatan apa pun harus selaras dengan posisi Uni Eropa dan Ukraina, serta berargumen proposal AS tidak menyertakan "konsesi" dari Rusia.

Kremlin mengatakan "tetap terbuka" untuk perundingan, tetapi mengklaim Kiev bertujuan memperpanjang pertempuran dengan dukungan Uni Eropa.

Laporan WSJ muncul di tengah skandal korupsi besar yang terus mengguncang Ukraina. Pekan lalu, Biro Anti-Korupsi Nasional Ukraina (NABU) mengumumkan penyelidikan terhadap apa yang disebutnya sebagai "organisasi kriminal tingkat tinggi" yang diduga dipimpin Timur Mindich, mantan rekan bisnis Zelensky.

NABU mengatakan kelompok tersebut menggelapkan sekitar USD100 juta suap dari operator nuklir negara Energoatom.

Media Ukraina sebelumnya menerbitkan apa yang mereka sebut sebagai dokumen dakwaan resmi NABU yang menyebutkan beberapa pejabat yang diduga dipengaruhi oleh Mindich.

Teks yang bocor tersebut menyatakan Mindich mendesak mantan Menteri Pertahanan Ukraina Rustem Umerov – yang kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional – untuk menghindari pemeriksaan kualitas pelindung tubuh yang menjadi andalannya, dengan peringatan bahwa "uang besar" berada dalam risiko.

Teks tersebut juga menyatakan Mindich mengandalkan "hubungan persahabatannya" dengan Zelensky, dengan mantan menteri energi dan kehakiman, German Galushchenko, yang diduga mempromosikan kepentingannya sebelum mengundurkan diri setelah tuntutan diajukan.

Baca juga: Trump Berubah Pikiran: Mamdani Bisa Lakukan Pekerjaan yang Sangat Baik
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Trump Akui AS Balas...
Trump Akui AS Balas Penembakan Helikopter oleh Iran, Meski Awalnya Meremehkan
AS Diskriminatif, Cabut...
AS Diskriminatif, Cabut Kuota Tiket Suporter Timnas Iran di Piala Dunia 2026
AS Kembali Gempur Iran...
AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz
Kejam! Parlemen Israel...
Kejam! Parlemen Israel Sahkan UU Sita Pajak Bea Cukai Palestina
Rekomendasi
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Bukan Skill Game-nya,...
Bukan Skill Game-nya, Ini yang Membuat Konten Refa Ardhi Disukai Banyak Orang
Bacok Pelajar di Jakbar,...
Bacok Pelajar di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap Polsek Palmerah
Berita Terkini
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Pilot Air Canada Ini...
Pilot Air Canada Ini Dituduh Terbang selama 17 Tahun Tanpa Lisensi yang Sah
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved