Patriark Latin Yerusalem: Mengkritik Kebijakan Israel di Gaza adalah Kewajiban Moral
Selasa, 22 Juli 2025 - 20:45 WIB
loading...
Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa (kiri), dan Patriark Ortodoks Theophilus III di Gereja Keluarga Kudus, Kota Gaza, 18 Juli 2025, sehari setelah gereja tersebut rusak akibat tembakan dari tank Israel. Foto/Patriarkat Ortodoks Yuna
A
A
A
JALUR GAZA - Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengkritik perang Israel di Gaza setelah kunjungannya ke Jalur Gaza. Kunjungannya dilakukan setelah satu tank Israel menghantam satu-satunya gereja Katolik di Gaza, menewaskan tiga orang dan melukai 10 orang.
"Kami tidak menentang dunia Yahudi, dan kami sama sekali tidak ingin terlihat menentang masyarakat Israel dan Yudaisme. Namun, kami memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan kritik kami terhadap kebijakan pemerintah ini di Gaza dengan kejelasan dan kejujuran yang mutlak," ujar Pizzaballa kepada Vatican News.
Pihak berwenang Israel mengatakan serangan brutal ke gereja di Gaza itu adalah "kesalahan".
Sang Patriark mengatakan ia terkejut melihat hamparan tenda yang luas yang ia lihat di daerah kantong tempat "orang-orang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan" dan melihat anak-anak yang terluka di rumah sakit.
Sementara itu, jumlah orang yang tewas oleh pasukan Israel di seluruh Gaza hari ini telah meningkat menjadi 43 orang, menurut sumber-sumber medis.
Angka suram tersebut mencakup 10 pencari bantuan, sumber tersebut mengatakan kepada Al Jazeera.
Sumber di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa departemen dialisis fasilitas medis utama tersebut kini tidak berfungsi karena kekurangan bahan bakar di tengah blokade Israel.
Pasukan Israel telah menewaskan 35 warga Palestina di Gaza sejak fajar, termasuk delapan orang yang mencari bantuan, sumber medis mengatakan hal itu kepada Al Jazeera.
Selain itu, seorang tentara cadangan Israel tewas di Gaza, menurut militer Zionis.
Al Jazeera Arabic melaporkan seorang anak dari Khan Younis di selatan daerah kantong tersebut dan seorang bayi berusia 40 hari di utara Gaza telah meninggal karena kekurangan gizi.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan lebih dari satu juta anak di Gaza kelaparan karena Israel hanya mengizinkan sedikit makanan dan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza sejak Maret.
“Kediaman staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota selatan Deir el-Balah diserang tiga kali oleh pasukan Israel pada hari Senin,” ungkap Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Baca juga: Menlu Iran Tegaskan Tak Pernah Berusaha Hapus Israel dari Peta
"Kami tidak menentang dunia Yahudi, dan kami sama sekali tidak ingin terlihat menentang masyarakat Israel dan Yudaisme. Namun, kami memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan kritik kami terhadap kebijakan pemerintah ini di Gaza dengan kejelasan dan kejujuran yang mutlak," ujar Pizzaballa kepada Vatican News.
Pihak berwenang Israel mengatakan serangan brutal ke gereja di Gaza itu adalah "kesalahan".
Sang Patriark mengatakan ia terkejut melihat hamparan tenda yang luas yang ia lihat di daerah kantong tempat "orang-orang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan" dan melihat anak-anak yang terluka di rumah sakit.
Sementara itu, jumlah orang yang tewas oleh pasukan Israel di seluruh Gaza hari ini telah meningkat menjadi 43 orang, menurut sumber-sumber medis.
Angka suram tersebut mencakup 10 pencari bantuan, sumber tersebut mengatakan kepada Al Jazeera.
Sumber di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa departemen dialisis fasilitas medis utama tersebut kini tidak berfungsi karena kekurangan bahan bakar di tengah blokade Israel.
Pasukan Israel telah menewaskan 35 warga Palestina di Gaza sejak fajar, termasuk delapan orang yang mencari bantuan, sumber medis mengatakan hal itu kepada Al Jazeera.
Selain itu, seorang tentara cadangan Israel tewas di Gaza, menurut militer Zionis.
Al Jazeera Arabic melaporkan seorang anak dari Khan Younis di selatan daerah kantong tersebut dan seorang bayi berusia 40 hari di utara Gaza telah meninggal karena kekurangan gizi.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan lebih dari satu juta anak di Gaza kelaparan karena Israel hanya mengizinkan sedikit makanan dan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza sejak Maret.
“Kediaman staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota selatan Deir el-Balah diserang tiga kali oleh pasukan Israel pada hari Senin,” ungkap Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Baca juga: Menlu Iran Tegaskan Tak Pernah Berusaha Hapus Israel dari Peta
(sya)
Lihat Juga :