Calon Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani dan Kontroversi Slogan Intifada
Jum'at, 04 Juli 2025 - 15:54 WIB
loading...
A
A
A
Senator Kristen Gillibrand, yang awalnya menyebut slogan itu sebagai bentuk "jihad politik", bahkan kemudian harus meminta maaf kepada Mamdani, namun tetap menegaskan bahwa istilah tersebut sangat bermasalah dan menyakitkan bagi banyak warga.
Museum Holocaust Amerika Serikat juga turut mengkritik Mamdani. Dalam pernyataan resminya, mereka menolak keras analogi yang sempat dibuat Mamdani, yakni membandingkan intifada Palestina dengan pemberontakan Ghetto Warsawa tahun 1943—sebuah aksi heroik orang-orang Yahudi melawan Nazi Jerman.
Menurut museum tersebut, menyamakan aksi itu dengan slogan “Globalize the Intifada” justru mencederai nilai historis dan menyakiti para penyintas serta keluarga korban Holocaust.
Namun, di sisi lain, banyak aktivis hak asasi dan pendukung Palestina justru memuji sikap Mamdani sebagai bentuk keberanian politik. Bagi mereka, Mamdani adalah satu dari sedikit politisi AS yang berani menantang narasi arus utama tentang konflik Israel–Palestina. Dia dianggap konsisten dalam membela rakyat tertindas, sekalipun harus menanggung risiko politis yang besar.
Polemik ini menunjukkan bahwa satu kata bisa memicu badai politik ketika dibaca dari dua lensa sejarah yang berbeda. Di satu sisi, intifada dimaknai sebagai simbol perjuangan melawan penindasan kolonial dan apartheid; di sisi lain, ia dianggap sebagai representasi kekerasan brutal yang menargetkan warga sipil tak bersalah. Konteks yang berbeda melahirkan interpretasi yang bertabrakan.
Zohran Mamdani kini berada di persimpangan antara keberanian ideologis dan krisis elektoral. Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa dukungannya di kalangan pemilih Yahudi—sekitar 13% populasi pemilih di New York City—merosot tajam. Namun di sisi lain, basis pemilih muda, imigran, dan komunitas Muslim justru menguat. Dia dinilai membawa suara-suara yang selama ini terpinggirkan dari panggung politik mainstream Amerika.
Museum Holocaust Amerika Serikat juga turut mengkritik Mamdani. Dalam pernyataan resminya, mereka menolak keras analogi yang sempat dibuat Mamdani, yakni membandingkan intifada Palestina dengan pemberontakan Ghetto Warsawa tahun 1943—sebuah aksi heroik orang-orang Yahudi melawan Nazi Jerman.
Menurut museum tersebut, menyamakan aksi itu dengan slogan “Globalize the Intifada” justru mencederai nilai historis dan menyakiti para penyintas serta keluarga korban Holocaust.
Namun, di sisi lain, banyak aktivis hak asasi dan pendukung Palestina justru memuji sikap Mamdani sebagai bentuk keberanian politik. Bagi mereka, Mamdani adalah satu dari sedikit politisi AS yang berani menantang narasi arus utama tentang konflik Israel–Palestina. Dia dianggap konsisten dalam membela rakyat tertindas, sekalipun harus menanggung risiko politis yang besar.
Polemik ini menunjukkan bahwa satu kata bisa memicu badai politik ketika dibaca dari dua lensa sejarah yang berbeda. Di satu sisi, intifada dimaknai sebagai simbol perjuangan melawan penindasan kolonial dan apartheid; di sisi lain, ia dianggap sebagai representasi kekerasan brutal yang menargetkan warga sipil tak bersalah. Konteks yang berbeda melahirkan interpretasi yang bertabrakan.
Zohran Mamdani kini berada di persimpangan antara keberanian ideologis dan krisis elektoral. Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa dukungannya di kalangan pemilih Yahudi—sekitar 13% populasi pemilih di New York City—merosot tajam. Namun di sisi lain, basis pemilih muda, imigran, dan komunitas Muslim justru menguat. Dia dinilai membawa suara-suara yang selama ini terpinggirkan dari panggung politik mainstream Amerika.
(mas)
Lihat Juga :