alexametrics

Fenomena Aneh, 'Salju Darah' Tutupi Wilayah Antartika

loading...
Fenomena Aneh, Salju Darah Tutupi Wilayah Antartika
Salju warna merah darah menutupi sebagian wilayah Antartika. Foto/ Andriy Zotov/Kementerian Pendidikan dan Sains Ukraina
A+ A-
KIEV - Sebuah fenomena aneh terjadi di Antartika, di mana sebagian wilayah itu ditutupi salju berwarna merah mirip darah. Pemandangan menyeramkan ini terjadi ketika musim panas di wilayah itu baru saja mencapai puncaknya, di mana suhu mencapai 18,3 derajat Celsius.

Kementerian Pendidikan dan Sains Ukraina mem-posting foto-foto luar biasa itu di Facebook, yang menunjukkan garis-garis salju warna merah dan merah muda melintasi pantai Antartika.

Para ilmuwan di Vernadsky Research Base telah dikelilingi oleh apa yang mereka sebut "raspberry snow" selama beberapa minggu terakhir.



Kementerian tersebut, seperti dikutip Yahoo! News, menjelaskan warna merah darah pada salju di Antartika adalah proses alami yang disebabkan oleh ganggang yang disebut Chlamydomonas nivalis. Ganggang itu melakukan reproduksi selama bulan-bulan hangat yang membuatnya tampak merah.

“Ketika kondisi cuaca menjadi baik (dan sekarang di Antartika musim panas), spora mulai tumbuh,” bunyi posting Kementerian Pendidikan dan Sains Ukraina di Facebook, seperti dikutip dari Daily Mirror, Rabu (4/3/2020).

Posting Facebook itu memicu reaksi para pengguna media sosial yang menggambarkan warna salju aneh tersebut seperti "rumah jagal dan semuanya berlumuran darah".

"Ini agak menyeramkan, tapi saya yakin ada penjelasan alami untuk warna kemerahan," bunyi komentar salah satu pengguna Facebook.

Suhu di Antartika mencapai 18,3 derajat Celsius pada bulan Februari, yang merupakan rekor suhu tertinggi dalam gelombang panas sembilan hari.

Menariknya, ini bukan pertama kalinya "salju darah" muncul di daerah tersebut. Filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, melihat salju yang dipenuhi garis-garis merah pada abad ketiga Sebelum Masehi (SM).

Para ahli menambahkan bahwa warna salju yang tidak biasa ini cenderung menjadi lebih umum karena perubahan iklim.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak