alexametrics

Gibka-S, Senjata Anti-Drone Terbaru Rusia

loading...
Gibka-S, Senjata Anti-Drone Terbaru Rusia
Gibka-S
A+ A-
MOSKOW - Rusia terus memperkuat pertahanan mereka. Terbaru, Moskow baru saja sukses menguji coba Gibka-S, sistem pertahanan udara yang bertugas untuk melumpuhkan pesawat nir-awak atau drone.

Melansir RBTH, Gibka-S merupakan integrasi dari sistem pertahanan udara portabel manusia, yang digunakan dalam pertempuran oleh infanteri, dengan kendaraan lapis baja Tiger.

Satu peleton Gibka-S terdiri dari hingga enam kendaraan tempur dengan peluncur rudal bawaan, ditambah kendaraan pengintai dan pengontrol senjata yang ditempatkan di barisan sebagai bagian dari komando kelompok.



Gibka-S mendeteksi musuh di udara dengan kecepatan hingga 700 meter perdetik dalam radius hingga 40 kilometer dan ketinggian hingga 10 kilometer. Deteksi itu ditangani oleh optik elektronik Garmon kompleks, yang terintegrasi ke dalam "otak" sistem tersebut.

Mesin ini berbasis kecerdasan buatan, yang memungkinkannya untuk membedakan target dan nontarget di sekitarnya secara terpisah, melakukan penguncian, dan kemudian menunggu perintah manusia untuk menghancurkannya.

Senjata ini juga dapat menerima koordinat target dari instalasi dan pusat radar yang lebih kuat, dan menyampaikan seluruh situasi taktis di darat kepada operator manusia. Setiap kendaraan lapis baja Tiger dapat dipasangkan hingga empat peluncur rudal Igla dan Verba di atasnya.

Sistem ini dirancang untuk menjatuhkan pesawat, helikopter, dan drone yang terbang rendah dengan pemandu infra merah yang dapat menyasar target hingga jarak enam kilometer.

Victor Murakhovsky, pakar senjata yang juga merupakan Pemimpin Redaksi majalah Arsenal of the Fatherland, mengatakan sistem pertahanan udara seperti Pantsir-S1, S-400, Tor-M2, Buk, dan lainnya dibangun untuk menghancurkan pesawat tempur, pengebom, rudal jelajah, dan sejenisnya. Senjata-senjata ini adalah sistem berbiaya tinggi dengan rudal mahal yang ditujukan untuk melumpuhkan sistem mahal lainnya.

"Oleh karena itu, pasukan yang bergerak membutuhkan senjata efektif yang murah untuk melenyapkan ancaman selusin drone kecil, yang dalam dekade mendatang akan berubah menjadi detasemen yang terkoordinasi," ucapnya.

Menurutnya, saat ini para insinyur tengah berkutat mengerjakan kecerdasan buatan yang akan dapat secara bersamaan mengendalikan dan mengoordinasikan serangan dari puluhan drone.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak