alexametrics

Meski Telah Kalah, DK PBB Anggap ISIS Masih Jadi Ancaman

loading...
Meski Telah Kalah, DK PBB Anggap ISIS Masih Jadi Ancaman
Foto/Ilustrasi/Sindonews
A+ A-
NEW YORK - Meskipun kehilangan benteng terakhirnya di Suriah dan pemimpinnya telah tewas, ISIS tetap menjadi pusat ancaman terorisme transnasional. Hal itu diungkapkan seorang pejabat senior PBB kepada Dewan Keamanan (DK).

Kepala Kantor PBB Anti-Terorisme Vladimir Voronkov, dalam laporan terbarunya, mendesak masyarakat internasional untuk tetap bersatu dalam memerangi jangkauan kelompok ekstrimis itu yang meluas ke Afrika, Eropa dan Asia.

“ISIS terus mencari kebangkitan dan relevansi global secara online dan offline, bercita-cita untuk membangun kembali kapasitasnya untuk operasi internasional yang kompleks," ujarnya.



"Afiliasi regional ISIS terus mengejar strategi pengukuhan di zona konflik dengan mengeksploitasi permasalahan lokal," imbuhnya seperti disitir dari laman resmi DK PBB, Sabtu (8/2/2020).

Voronkov melaporkan ribuan orang asing melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk mendukung ISIS, juga dikenal sebagai Daesh, dan diperkirakan 27.000 orang masih hidup.

"Mereka akan terus menimbulkan ancaman dalam jangka pendek dan jangka panjang," cetusnya.

Voronkov mengambil contoh kekhawatiran negara Eropa atas pembebasan 1.000 narapidana terkait terorisme yang diantisipasi tahun ini, beberapa di antaranya termasuk mantan pejuang ISIS yang pulang kembali.

“ISIS kehilangan benteng terakhirnya di Republik Arab Suriah pada Maret tahun lalu dan telah melihat perubahan kepemimpinan setelah kematian al-Baghdadi pada Oktober, tetapi laporan ini menunjukkan bahwa kelompok itu tetap menjadi pusat ancaman terorisme transnasional. Kita harus tetap waspada dan bersatu dalam menghadapi momok ini,” ulas Voronkov.

Voronkov mengatakan kepada DK PBB bahwa kekhawatiran yang paling mendesak sekarang adalah situasi lebih dari 100 ribu orang yang terkait dengan ISIS, terutama wanita dan anak-anak, yang saat ini berada di kamp-kamp penahanan dan pengungsian.

Direktur Eksekutif Direktorat Eksekutif Komite Anti Terorisme, Michele Coninsx, melaporkan bahwa mereka hidup dalam kondisi yang mengerikan, membuat mereka terbuka untuk radikalisasi lebih lanjut.

Ia menyambut upaya negara untuk memulangkan wanita dan anak-anak ini, serta meminta negara lain untuk mengikutinya.

“ISIS telah menghancurkan seluruh komunitas, menghancurkan keluarga dan mencuci otak ribuan orang dengan menyebarkan ideologinya yang beracun dan sesat," ujarnya.

"Saat ini komunitas internasional memiliki kesempatan untuk menuntut para pelaku, merehabilitasi para korban dan memfasilitasi rekonstruksi serta pengembangan masyarakat di tempat-tempat yang dihancurkan oleh kekerasan ISI,”ia melanjutkan.

“Pemulangan perempuan dan anak-anak akan mempercepat proses itu, dan penuntutan terhadap pejuang ISIS dan afiliasinya, sesuai dengan hak asasi manusia internasional akan membantu membawa penutupan bagi para korban," sambungnya.

"Ini adalah salah satu tantangan penangkal terorisme di zaman kita. Tidak adanya tindakan sekarang hanya akan membuat upaya kontra-terorisme masa depan kita lebih sulit," tukasnya.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak