alexametrics

Tambang Emas Ilegal di Zimbabwe Runtuh, Dua Tewas

loading...
Tambang Emas Ilegal di Zimbabwe Runtuh, Dua Tewas
Dua penambang emas ilegal tewas setelah sebuah tambang emas di Zimbabwe runtuh. Foto/Ilustrasi
A+ A-
HARARE - Dua penambang emas ilegal di Zimbabwe tewas sementara satu lainnya cedera setelah tambang emas tempat mereka bekerja runtuh. Hal itu diungkapkan oleh badan manajemen bencana setempat, ketika tim penyelamat mencari lebih banyak penambang yang menjadi korban di lokasi kejadian.

Fortune Mupungu, Ketua Unit Perlindungan Sipil (CPU) untuk distrik Kwekwe yang berjarak 200 km barat daya dari Ibu Kota Harare, mengatakan tim penyelamat telah menemukan dua mayat.

“Operasi penyelamatan telah berlangsung dan kami belum mengidentifikasi (korban) penambang lagi. Ini adalah penambang ilegal yang beroperasi pada malam hari, jadi kami tidak dapat memastikan berapa jumlahnya,” terang Mupungu seperti dilansir dari Reuters, Jumat (7/2/2020).



Koran Herald milik pemerintah melaporkan bahwa 20 penambang lainnya terperangkap di dalam tambang tetapi Mupungu tidak dapat mengkonfirmasi hal ini.

Kecelakaan itu terjadi setahun setelah setidaknya 22 penambang meninggal di dekat Kwekwe, memicu sorotan terhadap risiko yang dijalankan oleh penambang emas ilegal di Zimbabwe.

Dalam kecelakaan terakhir, para penambang secara ilegal menambang di Globe dan tambang emas Phoenix. Mereka memasuki terowongan pada Rabu malam tetapi tidak muncul kembali pada Kamis pagi, tulis Herald.

Kwekwe dan daerah-daerahnya kaya akan simpanan emas dan populer di kalangan penambang rakyat. Penduduk lokal menyebutnya sebagai "Makorokoza" atau penipu. Para penambang ilegal ini bekerja di terowongan yang tidak aman menggunakan cangkul dan sekop serta pompa air bertenaga generator.

Dalam sebulan terakhir polisi telah menangkap ratusan penambang ilegal yang terlibat dalam perang wilayah dengan kekerasan untuk mengklaim pertambangan.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak