alexametrics

Virus Corona Intai 1,4 Miliar Orang China, Tahun Baru Imlek Suram

loading...
Virus Corona Intai 1,4 Miliar Orang China, Tahun Baru Imlek Suram
Para penumpang yang memakai masker terlihat di Stasiun Kereta Api Shanghai di Shanghai, China, 21 Januari 2020. Foto/REUTERS / Aly Song
A+ A-
BEIJING - China menandai hari libur Tahun Baru Imlek, Sabtu (25/1/2020), "di bawah awan" ketakutan dan kesuraman ketika jumlah korban meninggal akibat virus 2019-nCoV melonjak menjadi 41 orang. Hampir 1.300 orang secara global juga telah terinfeksi.

Tahun Baru Imlek biasanya merupakan waktu yang paling meriah di China, tetapi perayaan liburan di seluruh negeri telah dibatalkan dan warga disarankan untuk "berjongkok" sendirian di rumah, dengan lebih dari selusin kota di negara itu ditutup atau dikunci.

Pada hari Sabtu, ketika mereka seharusnya merayakan Tahun Baru Imlek, orang-orang mengantre di apotek untuk membeli masker dari karyawan apotek yang mengenakan pakaian pelindung seluruh tubuh dan sarung tangan bedah.



Virus ini telah menimbulkan kekhawatiran global karena kemiripannya dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), yang menewaskan ratusan orang di daratan China dan Hong Kong pada 2002-2003. Virus 2019-nCoV atau dijuluki sebagai virus Wuhan telah menyebar ke sejumlah negara lain, termasuk di Amerika dan Eropa.

Nama virus 2019-nCoV merupakan singkatan dari 2019 Novel Coronavirus. Penyakit yang sebelumnya tidak dikenal kini telah dilaporkan jadi wabah secara nasional di China. Di Prancis ada tiga kasus yang telah dikonfirmasi dan menjadikannya sebagai kasus pertama di Eropa.

Otoritas kesehatan China mengatakan pada Sabtu bahwa jumlah korban secara nasional telah melonjak menjadi 41 orang setelah 15 kematian terbaru dilaporkan terjadi di di Wuhan pada hari Jumat.

Jumlah infeksi yang dikonfirmasi di China juga melonjak menjadi 1.287, naik dari 830 yang dilaporkan pada hari Jumat. Sebagian besar kematian dan keseluruhan kasus ada di Hubei, provinsi tempat kota Wuhan berada.

China telah meluncurkan upaya karantina besar-besaran untuk Wuhan, kota metropolitan dengan 11 juta orang, dan selusin kota lainnya di Hubei.

Larangan operasional transportasi dan tindakan lain di kota-kota yang terkena dampak telah memengaruhi 41 juta orang.

Berbagai perayaan Tahun Baru Imlek telah dibatalkan. Kota Terlarang atau Forbidden City di Beijing ditutup. Begitu juga dengan Shanghai Disneyland, dan Tembok Besar China.

“Biasanya kami merayakan sebagai sebuah keluarga. Sekarang, karena virus saya bahkan tidak mengunjungi orang tua saya," kata Wang Fang, warga asli Wuhan berusia 49 tahun dan salah satu dari banyak penduduk kota yang mengungkapkan rasa takut mengenai bagaimana penularan virus akan terjadi.

"Ini akan menjadi luar biasa hanya untuk bisa melewati (wabah)," katanya lagi.

Respons agresif China telah memenangkan pujian secara internasional, terutama dibandingkan dengan wabah SARS tahun 2002-2003, di mana negara itu dituduh melakukan reaksi lambat dan menghambat komunitas internasional.

"China telah bekerja sangat keras untuk mengendalikan Coronavirus," puji Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Twitter, beberapa jam setelah Amerika Serikat mengonfirmasi kasus keduanya.

"Amerika Serikat sangat menghargai upaya dan transparansi mereka," ujarnya. "Semuanya akan berjalan dengan baik," imbuh pemimpin Gedung Putih tersebut.

Tetapi wabah itu telah merusak liburan yang ratusan juta orang sangat menantikan setiap tahun karena biasanya satu-satunya kesempatan untuk reuni keluarga yang anggotanya tersebar di seluruh negeri untuk mencari pekerjaan.

Organisasi Kesehatan Dunia pada hari Kamis tidak menyatakan darurat kesehatan global, meski virus ini sudah menyebar ke berbagai negara. Namun, organisasi itu mendorong kerjasama internasional yang lebih besar.

Wabah ini muncul pada akhir Desember. Pasar makanan laut di Wuhan dan pasar hewan hidup yang menjual sejumlah besar hewan eksotis dan daging hewan liar lainnya disalahkan atas munculnya virus mematikan ini.

Wuhan telah dianggap sebagai kota hantu, tetapi rumah sakit yang dikunjungi oleh wartawan AFP sibuk dengan pasien yang diperiksa oleh staf yang mengenakan pakaian pelindung seluruh tubuh.

Ketika laporan muncul tentang kekurangan tempat tidur di rumah sakit di Wuhan, media pemerintah mengatakan pihak berwenang bergegas untuk membangun rumah sakit lapangan baru untuk mengatasi wabah dalam waktu 10 hari ke depan.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak