Putin: Rusia Harus Jadi Republik Presidensial yang Kuat

Kamis, 23 Januari 2020 - 06:05 WIB
Putin: Rusia Harus Jadi...
Putin: Rusia Harus Jadi Republik Presidensial yang Kuat
A A A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan negaranya harus menjadi republik presidensial yang kuat. Pernyataan itu muncul saat ditanya tentang kemungkinan masa transisi saat dia menyelesaikan jabatannya pada 2024.

Pekan lalu, Putin mengusulkan perubahan konstitusi yang akan memberinya wewenang untuk memperpanjang cengkeraman kekuasaan setelah meninggalkan jabatan presiden. Perubahan itu diusulkan karena sesuai konstitusi dia tidak dapat maju lagi dalam pemilu presiden.

Beberapa isi perubahan itu termasuk mengurangi wewenang presiden dan menambah wewenang perdana menteri (PM). Rencana ini memicu spekulasi bahwa Putin mungkin ingin kembali ke posisi PM seperti sebelumnya pada 2008 hingga 2012.

"Negara kita, tentu, harus menjadi republik presidensial yang kuat. Itu hal pertama. Dan kemudian, kita memiliki sangat banyak kelompok etnik, kewarganegaraan, cara hidup, itu praktis mustahil diintegrasikan dalam kerangka kerja republik parlementer," papar Putin dalam komentar yang tampaknya bertentangan dengan pesannya pekan lalu.

Pernyataan Putin, 67, muncul saat dia bertemu para mahasiswa Rusia di resor Sochi, Laut Hitam. Acara itu ditayangkan di televisi nasional.

Ditanya oleh seorang mahasiswa tentang apakah Rusia harus mempertimbangkan membentuk lembaga transisi seperti di Singapura, Putin menyatakan ide itu tidak tepat bagi Rusia.

Pendiri Singapura modern, Lee Kuan Yew ditunjuk sebagai Menteri Mentor dalam posisi penasehat setelah dia pensiun dari politik aktif, untuk membantu menciptakan stabilitas.

"Dia seorang pria luar biasa. Itu benar, dia, saya tidak tahu, sekitar 30 tahun berkuasa, dan dia mendirikan negara itu, itu benar. Anda ingin saya menjadi Menteri Mentor?" tanya Putin.

"Apa yang Anda usulkan, akan merusak lembaga kepresidenan. Saya pikir untuk negara seperti Rusia ini tidak dapat diterapkan," kata Putin yang telah mendominasi politik Rusia sebagai presiden atau perdana menteri selama dua dekade terakhir.
(sfn)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
15 menit yang lalu
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
1 jam yang lalu
Iran Tinjau Lagi Perundingan...
Iran Tinjau Lagi Perundingan dengan AS setelah Eskalasi Terbaru
2 jam yang lalu
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
3 jam yang lalu
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
4 jam yang lalu
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved