alexametrics

Usir Pasukan AS, Washington Ancam Sunat Bantuan Militer Irak

loading...
Usir Pasukan AS, Washington Ancam Sunat Bantuan Militer Irak
AS ancam memotong bantuan militer untuk Irak jika mengusir pasukannya dari negara itu. Foto/Ilustrasi/Istimewa
A+ A-
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) bersiap untuk memotong bantuan militer untuk Irak sebesar USD250 juta jika negara itu mengusir pasukan Amerika.

Wall Street Journal (WSJ) melaporkan Biro Luar Negeri Departemen Luar Negeri AS tengah bekerja untuk memotong seperempat miliar dolar dana militer untuk Iran pada tahun fiskal ini. Laporan itu mengutip email dari Departemen Dalam Negeri dan Pertahanan seperti disitir Sputnik, Rabu (15/1/2020).

Laporan WSJ ini mengikuti pernyataan sebelumnya oleh Wakil Asisten Kepala Sekretaris Negara Joey Hood bahwa Irak bisa menghadapai sanksi AS jika negara itu membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.



Menjawab pertanyaan selama acara di Middle East Institute di Washington DC, Hood mengatakan bahwa kesepakatan untuk membeli sistem rudal Rusia kemungkinan akan memicu sanksi dan mencatat bahwa AS menyarankan mitra-mitranya untuk menahan diri dari langkah tersebut.

Mengutip anggota parlemen Irak, WSJ melaporkan sebelumnya bahwa negara itu telah memulai konsultasi dengan Rusia tentang kemungkinan pembelian sistem pertahanan udara S-400.

Pada 5 Januari, parlemen Irak memberikan suara untuk mengusir pasukan koalisi atas serangan pesawat tak berawak AS pada 3 Januari di dekat bandara Internasional Baghdad yang membunuh komandan Iran Qassem Soleimani, bersama dengan Abu Mahdi Muhandis, anggota senior Pasukan Mobilisasi Populer Syiah yang didukung Iran.

Namun para pejabat AS telah berulang kali mengesampingkan mundurnya sepenuhnya dari Irak. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Robert O'Brien, pekan lalu mengatakan AS akan pergi dari Irak dengan "persyaratannya sendiri."
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak