alexametrics

Demonstran di Iran Serukan Revolusi, Khamenei Diminta Mundur

loading...
Demonstran di Iran Serukan Revolusi, Khamenei Diminta Mundur
Para demonstran menggelar aksi anti pemerintah dan menyerukan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk mengundurkan diri. Foto/Koran SINDO
A+ A-
TEHERAN - Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan ribuan demonstran di Alun-Alun Azadi, Teheran. Aksi itu mengkhawatirkan karena seruan revolusi untuk menuntut pembubaran pemerintahan Iran semakin menguat setelah insiden penembakan pesawat sipil Ukraina yang menewaskan 176 orang.

Para demonstran memulai aksi dengan berdoa bersama untuk para korban penembakan pesawat sipil Ukraina dengan misil buatan Rusia Tor. Setelah itu, mereka menggelar aksi anti pemerintah dan menyerukan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk mengundurkan diri. Mereka juga menuntut agar para pejabat militer yang bertanggungjawab menembak pesawat itu harus diadili.

“Matilah diktator,” teriak para demonstran dalam video yang beredar di media sosial. Dalam salah satu video menunjukkan demonstran berteriak: “Khamenei harus malu. Tinggalkan negara ini.” Khamenei telah berkuasa selama tiga dekade dan tidak ada batasan masa jabatannya.



Video yang beredar di media sosial menunjukkan demonstran di Teheran lari kocar-kacir karena tembakan gas air mata. Beberapa demonstran juga ditangkap polisi. Beberapa pengunjuk rasa lainnya meminta polisi membebaskan teman-temannya.

Demonstrasi meluas diberbagai kota, seperti Shiraz, Esfa-han, Hamedan, dan Orumiyeh. Mereka menunjukkan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa. Kemarahan para demonstran itu sangat berbeda dengan citra yang ditunjukkan Iran ketika berduka selepas kematian komandan Al Quds Qassem Soleimani yang ditembak militer Amerika Serikat pekan lalu. Selepas kematiannya, ribuan warga Iran turun ke jalan dan berteriak “Matilah AS”.

CNN melaporkan demonstrasi antipemerintah yang digelar di Teheran mendapatkan pengawalan ketat aparat keamanan, termasuk di Alun-Alun Azadi dekat Universitas Sharif, Alun-Alun Enghelab dekat Universitas Teheran, dan Alun-Alun Ferdowsi. Pasukan keamanan juga dilengkapi dengan mobil penembak air dan kendaraan tahanan.

Aksi unjuk rasa di Iran kerap berujung pada kekerasan berdarah. Tahun lalu saat gerakan antipemerintah berkumandang, organisasi hak asasi manusia mencatat 208 demonstran tewas dibunuh aparat di 21 kota. Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) juga memiliki bukti bahwa pasukan keamanan Iran memang diperintah untuk menembak dan membunuh para demonstran.

Juru bicara Pemerintah Iran Ali Rabiei mengabaikan dukungan Presiden AS Donald Trump yang menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran. “Rakyat Iran akan ingat bahwa dia (Trump) membunuh jenderal dan menjatuhkan sanksi ekonomi,” kata Rabiei.

Mengenai tindakan duta besar Inggris di Teheran RobMacaire, Rabiei mengatakan, duta besar itu bertindak tidak profesional. “Dia (duta besarRob Macaire) itu ditangkap singkat di dekat aksi demonstrasi,” ujarnya.

Trump mengungkapkan, kalau penasihat keamanan nasional AS Robert OíBrien telah menyarankan bahwa sanksi dan demonstrasi akan memaksa Iran untuk bernegosiasi. “Sesungguhnya saya tidak peduli jika mereka tidak bernegosiasi. Semuanya memang tanggung jawab mereka, tapijangan bunuh para demonstran,” ujarnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak