Kisah Perjalanan Bhanu, dari Kecelakaan Kini Menjadi Manusia Kalkulator

loading...
Kisah Perjalanan Bhanu, dari Kecelakaan Kini Menjadi Manusia Kalkulator
Neelakantha Bhanu Prakash. Foto/You Tube
A+ A-
NEW DELHI - Matematika bagi umumnya siswa sekolah di berbagai tingkatan masih menjadi momok paling menakutkan. Matematika adalah mata pelajaran yang kerap membuat pusing dan untuk mengerjakannya butuh energi otak berlipat ganda. Akhirnya banyak siswa menyiasatinya dengan menggantungkan diri pada kalkulator sebagai solusi. (Baca: Memanas, China Usir Kapal Perang AS dari Laut China Selatan)

Namun pandangan itu tidak berlaku untuk Neelakantha Bhanu Prakash, pemuda asal India. Kecintaannya berhitung membuat matematika seolah bagian hidupnya yang tak akan terpisah. Bahkan kebiasaan Bhanu menghitung menjadikan otaknya bekerja sangat taktis. Kini kecepatan menghitung Bhanu bahkan lebih cepat daripada kalkulator.

Predikat manusia kalkulator tersemat setelah baru-baru ini Bhanu memenangi lomba Mental Calculation World Championship at Mind Sports Olympiad di London. Mahasiswa St Stephens College, India, ini pun mampu mengubah persepsi ketergantungan manusia terhadap kalkulator. “Saya merasa bahwa segala upaya yang saya lakukan sudah terbayar. Tapi sekarang justru memiliki banyak tanggung jawab. Banyak hal yang harus dilakukan,” kata Bhanu Prakash kepada Hindustan Times.

Bhanu Prakash sudah belajar matematika sejak berusia 5 tahun pasca-kecelakaan. Dia sempat dirawat di rumah sakit karena mengalami cedera di kepala. “Dokter mengatakan saya memiliki ketidakseimbangan kognitif jika tidak bekerja di bidang ini (matematika). Karena itu ibu saya membeli teka-teki dan kenapa saya mengetahui keunggulan saya di sana,” katanya. (Baca juga: Bopong Senjata dan Radar Canggih, Pesawat F-16 TNI AU Semakin Garang)

Semenjak itu Bhanu Prakash mulai berlatih berhitung matematika. “Saya memahami bahwa kalkulasi merupakan sesuatu yang saya sukai. Jadi saya mulai belajar mencongkak supaya bisa bertahan hidup untuk menjaga otak saya tetap sibuk,” ujarnya.



Semakin tumbuh besar Bhanu Prakash selalu berlatih teka-teki selama 4–6 jam per hari. Akhirnya dia pun sadar perlu pengetahuan lain untuk dijadikan andalan. Dia lalu memilih fokus pada kalkulasi matematika. “Jika saya hanya kalkulator manusia, saya tidak mengetahui di mana saya bisa bekerja. Saya juga tidak bisa berkontribusi di bidang lain,” kata pemegang 50 Limca Record, catatan rekor yang dipegang oleh orang India.

Awalnya tak banyak orang mengetahui kemampuannya, Bhanu Prakash juga tak menceritakan kepada kawan-kawan dan gurunya di sekolah tentang apa yang bisa dilakukannya. “Mereka hanya mengetahui saya bisa berhitung,” katanya. (Baca juga: Mencekam, Polsek Ciracas Dibakar Gerombolan Orang Tak Dikenal)

Tumbuh dengan keajaiban, Bhanu Prakash kerap diminta mempertunjukkan kemampuannya dalam menjawab pertanyaan kalkulasi. “Di Delhi saya biasanya jadi seperti tukang sulap dan melakukan pertunjukan di bar untuk menunjukkan kemampuan berhitungnya,” dia bercerita.

Kenapa Bhanu Prakash tampil ke level nasional? Dia terinspirasi setelah menonton film berjudul Math is The Man Who Knew Infinity (2016). Dia merasa film tersebut memiliki peran penting karena menarik perhatian. “Saya bangga mengatakan Bollywood sukses membuat matematika semakin populer. Saya juga ikut tertarik. Tanpa film itu saya tidak mengenal Olimpiade Matematika,” katanya.

Bagi Bhanu Prakash, matematika merupakan olahraga bagi otak yang sama seperti berjalan kaki juga baik bagi jantung. Dengan begitu orang akan tidak lagi takut pada matematika. “Ketika gelombang itu menjauh, maka lautan akan menjadi semakin tenang,” katanya. Dia ingin menghapus fobia matematika.



Karena itu mimpinya adalah mengubah ketakutan sebagian siswa pada matematika. “Bagi negara maju, kemampuan matematika sangat penting sebagai literasi,” jelasnya. (Baca juga: Indonesia Tidak Akan Selamat, waktu 1,5 Bulan Tidak Cukup Hindari Resesi)

Bagi Bhanu, tujuannya tidak hanya mencetak rekor meski hal ini juga membuat dia suka. "Rekor dan kalkulasi hanyalah metafora untuk mengatakan bahwa dunia butuh matematikawan dan matematika harus menyenangkan bagi kita sehingga bisa mengatakan inilah mata pelajaran yang kita cintai,” jelasnya.

Saat berhitung, Bhanu Prakash menceritakan dirinya seperti membaca buku atau sedang dalam perjalanan atau sedang bermain video games. “Saya memang suka makan es krim. Saya menulis kode. Jika kelelahan, saya tidur dengan tersenyum,” katanya. Dia memang menganggap dirinya selalu berpikir tentang angka-angka.

Bhanu Prakash pun membandingkan matematika dengan lari jarak pendek. "Kita merayakan seseorang seperti Usain Bolt ketika dia melakukan lari cepat 10 meter dalam 9,8 detik," katanya kepada BBC. “Tapi kita tidak berkata apa gunanya lari cepat bila sudah ada mobil dan pesawat terbang,” katanya.

Menurut Bhanu Prakash, itu menginspirasi orang-orang bahwa tubuh manusia dapat melakukan sesuatu yang tak terbayangkan–begitu pula dengan hitung-menghitung dan matematika. (Baca juga: Ngeri! Cukup 6 Ronde, Anthony Joshua Robohkan Tyson Fury)

Untuk bisa ahli dalam berhitung tanpa alat bantu, Bhanu Prakash harus berlatih selama enam hingga tujuh jam dalam sehari secara formal. Dia juga mengandalkan pelatihan tidak terstruktur di mana dia berpikir tentang angka sepanjang waktu. "Saya berlatih sambil mendengarkan musik keras-keras, berbicara kepada orang, bermain kriket karena inilah saat otak Anda dilatih untuk melakukan lebih dari satu hal pada waktu yang sama,” ujarnya.

Bhanu Prakash mengungkapkan dirinya bisa menambahkan setiap nomor taksi yang berlalu lalang di depannya. “Jika saya bicara dengan seseorang, saya akan menghitung berapa kali mereka mengedip–meskipun kedengaran aneh. Ini membuat otak terus berfungsi,” paparnya.

Dipuji Wapres India
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top