alexametrics

Mattis: Iran Harus Dibalas karena Tembak Jatuh Pesawat AS

loading...
Mattis: Iran Harus Dibalas karena Tembak Jatuh Pesawat AS
pesawat nirawak mata-mata Amerika Serikat, RQ-4 Global Hawk. Foto/REUTERS
A+ A-
WASHINGTON - Mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Norman Mattis mengatakan Iran harus merasakan pembalasan karena telah menembak jatuh pesawat Amerika. Pernyataan mantan bos Pentagon ini merujuk pada jatuhnya pesawat nirawak mata-mata Amerika, RQ-4 Global Hawk yang sangat mahal 20 Juni lalu.

Seruan pembalasan itu disampaikan Mattis saat menanggapi pertanyaan dari jurnalis Washington Post, David Ignatius, tentang apakah kebijakan pengekangan diri Amerika menghambat upaya untuk mencegah agresi Iran di kawasan Teluk.

Mattis mengunjungi Washington Post pada hari Jumat (13/12/2019) untuk membahas buku barunya "Call Sign Chaos".



Iran menembak jatuh pesawat nirawak RQ-4 Global Hawk pada 20 Juni di Selat Hormuz. Pada bulan Juli, para pejabat pertahanan AS mengatakan pasukan Marinir berada di atas kapal perang amfibi kelas Wasp yang mengoperasikan jammer peperangan elektronik yang menjatuhkan pesawat tak berawak Iran karena mengancam kapal tersebut.

Beberapa analis dan pakar keamanan nasional mengkritik Presiden Donald Trump karena menarik kembali perintahnya untuk meluncurkan serangan balasan atas jatuhnya RQ-4 Global Hawk.

Trump berargumen dalam serangkaian tweet bahwa serangan balasan bisa merenggut banyak nyawa dan tidak proporsional dengan jatuhnya sebuah pesawat tak berawak AS.

"Pada hari Senin mereka menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang terbang di atas perairan internasional. Kami mengokang dan mengisi (senjata) untuk membalas semalam pada 3 pemandangan yang berbeda ketika saya bertanya; 'berapa banyak yang akan tewas, 150 orang, tuan, adalah jawaban dari seorang jenderal. Sepuluh menit sebelum serangan saya menghentikannya, tidak sebanding dengan menembak sebuah pesawat tak berawak," tulis di Twitter pada 21 Juni lalu.

Mattis menjelaskan pada hari Jumat bahwa keputusan untuk membalas Iran bukanlah pilihan yang mudah untuk dibuat.

"Setelah Anda masuk pada ini, Anda masuk ke dalam fenomena mendasar yang tidak dapat diprediksi. Itu adalah perang, atau perang seperti aksi," kata Mattis.

Pada tahun 2011, Iran juga pernah menembak jatuh drone AS. Pada saat itu, Mattis yang menjabat sebagai Kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS menginginkan respons langsung yang kuat terhadap militer Iran.

"Saya mengusulkan ke Washington agar kami meluncurkan drone lain di jalur yang sama, menempatkan beberapa pesawat F-18 di tempat yang tidak terlihat, dan menembak jatuh pesawat Iran jika menyerang drone," tulis dia dalam buku barunya "Call Sign Chaos".

"Gedung Putih menolak untuk memberikan izin," lanjut dia, merujuk pada pemerintah Barack Obama yang memang mengambil kebijakan lunak pada Iran.

Menteri Pertahanan Mark Esper dan Ketua Kepala Staf Gabungan Militer AS (Panglima Angkatan Bersenjata) Jenderal Mark Milley bersama anggota parlemen di Capitol Hill telah membahas kekhawatiran tentang sikap agresif Iran pada Rabu lalu. Para anggota parlemen khawatir Iran memandang pengekangan diri Amerika sebagai tanda kelemahan.

Ada hampir 10 serangan roket terhadap instalasi dan kepentingan AS di seluruh Irak selama beberapa minggu terakhir. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Military Times bahwa beberapa serangan itu dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung Iran.

Pada bulan September lalu, para pejabat AS menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua ladang minyak Arab Saudi.

"Iran seharusnya tidak salah mengira pengengkangan Amerika Serikat atas keengganan untuk menanggapi dengan kekuatan militer yang menentukan jika pasukan atau kepentingan kita diserang," kata Esper kepada anggota parlemen.

Milley mengatakan kepada anggota parlemen bahwa Iran harus sangat sangat berhati-hati. "Kami berada dalam periode risiko tinggi sehubungan dengan Iran," kata Milley. Tetapi komandan top Amerika itu menjelaskan bahwa menahan diri dalam situasi khusus ini adalah respons yang tepat.

Mattis mengatakan kepada Washington Post bahwa ketika ia menjabat sebagai komandan CENTCOM, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengirim jet tempur SU-25 Frogfoot untuk menembak sebuah drone AS.

Jet tempur Iran, kata Mattis, melakukan tiga kali mencoba menembak drone Amerika dari udara. "Saya tidak terlalu menyukainya," katanya.

Menurutnya, jet tempur Iran gagal menyerang pesawat tanpa awak AS di setiap kesempatan. "Mengutarakan sesuatu tentang keakuratan yang mereka lewatkan tiga kali," canda Mattis.

Sepuluh hari kemudian, lanjut Mattis, AS memasang pesawat tanpa awak dengan dua pesawat F/A-18 terbang di sampingnya.

"Orang Iran memutuskan untuk tidak muncul dan berani pada hari itu," kata Mattis. "Itu adalah keputusan bijak untuk program pensiun pilot mereka," papar Mattis yang menjabat sebagai komandan CENTCOM dari 2010 hingga 2013.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak