alexametrics

6 Warga Saudi Ditangkap setelah Penembakan di Pangkalan Militer AS

loading...
6 Warga Saudi Ditangkap setelah Penembakan di Pangkalan Militer AS
Naval Air Station (NAS) Pensacola, Florida, sebuah pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembaki perwira Arab Saudi. Foto/US Navy/Patrick Nichols
A+ A-
WASHINGTON - Enam warga negara Arab Saudi ditangkap di dekat pangkalan militer Angkatan Laut di Pensacola, Florida, Amerika Serikat (AS) tempat seorang perwira Saudi melepaskan tembakan yang menewaskan tiga orang. Perwira yang sedang menjalani pelatihan di pangkalan AS itu juga tewas setelah menembak dirinya sendiri.

Penembakan berlangsung hari Jumat waktu Amerika. Penangkapan enam warga Saudi itu diungkap seorang pejabat senior AS kepada Fox News, Sabtu (7/12/2019). Pejabat yang berbicara dalam kondisi anonim itu mengatakan keenam warga Saudi sedang diinterogasi tentang penembakan tersebut dan ditahan.

FBI, yang memimpin penyelidikan atas penembakan pada Jumat dini hari di Naval Air Station (NAS) Pensacola, Florida, menolak untuk mengungkapkan identitas pelaku penembakan. Alasannya, karena masih dalam tahap awal penyelidikan. (Baca: Tersangka Warga Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS, 4 Orang Tewas)



Namun, seorang pejabat AS mengatakan kepada Fox News bahwa pria bersenjata itu adalah seorang perwira penerbang Arab Saudi bernama Mohammed Saeed Alshamrani.

Insiden penembakan itu mendorong banyak pejabat dan anggota Parlemen Amerika menyerukan pengawasan yang lebih dalam terhadap langkah-langkah keamanan dan pemeriksaan yang masuk ke pemilihan peserta asing dalam pelatihan.

Senator Rick Scott mengatakan di Twitter bahwa dia menyerukan "tinjauan penuh" terhadap program pelatihan Angkatan Laut setelah penyelidik mengatakan mereka sedang menjajaki kemungkinan bahwa serangan itu terkait dengan terorisme.

"Saya sangat khawatir bahwa penembak di Pensacola adalah warga asing dalam pelatihan di pangkalan AS. Hari ini, saya menyerukan peninjauan penuh atas program militer AS untuk melatih warga negara asing di tanah Amerika. Kita seharusnya tidak menyediakan pelatihan militer kepada orang-orang yang ingin kita celaka," kata Scott.

Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan kepada wartawan bahwa meskipun prioritas pertamanya adalah mendukung penyelidikan yang sedang berlangsung dan menentukan motif penembak, ia juga mengatakan; "Saya ingin memastikan kami melakukan uji tuntas kami untuk memahami apa prosedur kami mengenai program pelatihan ini."

"Apakah itu cukup dan itu mungkin tidak, itu mungkin pemeriksaan, apakah kita juga menyaring orang yang datang untuk memastikan bahwa mereka memiliki (kelayakan)," ujar Esper. "Anda tahu, kesehatan mental mereka sudah memadai. Jadi kita perlu melihat semua itu."

Esper menyebut penembak itu sebagai warga negara Arab Saudi berpangkat letnan dua yang sedang dalam pelatihan penerbangan. (Baca: Respons Raja Salman soal Pria Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS)

Sumber pemerintah AS mengatakan kepada Fox News bahwa adegan penembakan—di sebuah ruang kelas, di mana para peserta pelatihan biasanya menghabiskan tiga bulan pada awal program—menunjukkan bahwa penembak itu adalah seorang siswa yang baru tahap awal dalam pelatihan.

Mayoritas dari ratusan peserta asing dalam program pelatihan penerbangan berasal dari Arab Saudi. Program pelatihan dari Angkatan Laut Amerika itu memiliki sekitar 1.500 pilot.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga para korban, dan berharap para korban luka bisa pulih dengan cepat. (Baca juga: Raja Salman: Saudi Marah dengan Penembakan Biadab di Pangkalan Militer AS)

"Pelaku serangan mengerikan ini tidak mewakili rakyat Saudi sama sekali. Rakyat Amerika sangat dihormati oleh rakyat Saudi," kata kementerian itu. "Membangun di atas ikatan yang kuat antara Kerajaan Arab Saudi dan Amerika Serikat sebagai kelanjutan dari kerja sama yang sedang berlangsung antara agen keamanan kedua negara, agen keamanan Saudi akan memberikan dukungan penuh kepada otoritas AS untuk menyelidiki kejahatan ini."

Presiden Donald Trump mengaku telah ditelepon Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud tak lama setelah penembakan tersebut. "Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud mengatakan bahwa rakyat Saudi sangat marah dengan tindakan biadab penembak, dan bahwa orang ini sama sekali tidak mewakili perasaan orang-orang Saudi yang mencintai orang-orang Amerika," kata Trump.

"Raja Salman dari Arab Saudi baru saja menelepon untuk menyatakan belasungkawa yang tulus dan memberikan simpatinya kepada keluarga dan teman-teman prajurit yang terbunuh dan terluka dalam serangan yang terjadi di Pensacola, Florida," lanjut pemimpin Amerika tersebut dalam rentetan tweet-nya, yang dikutip dari akun Twitter-nya, @realDonaldTrump, Sabtu (7/12/2019).
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak