alexametrics

Demonstran Bakar Ban dan Kepung Kantor Polisi, Irak Masih Membara

loading...
Demonstran Bakar Ban dan Kepung Kantor Polisi, Irak Masih Membara
Mobil aparat keamanan Irak dibakar saat unjuk rasa di Nassiriya, Irak, 29 November. Foto/REUTERS
A+ A-
BAGHDAD - Demonstran membakar ban dan mengepung satu kantor polisi di kota Nassiriya, Irak, pada Sabtu (30/11). Mereka masih menyuarakan tuntutan reformasi total meski perdana menteri (PM) berjanji turun dari jabatannya.

PM Irak Adel Abdul Mahdi mengumumkan pengunduran diri pada Jumat (29/11) setelah desakan dari ulama berpengaruh agar pemerintahan mundur untuk mengakhiri kerusuhan berdarah yang telah menewaskan lebih dari 400 orang.

Aparat keamanan menggunakan peluru tajam, gas air mata dan granat kejut untuk melawan demonstran selama hampir dua bulan terakhir. Kota Nassiriya menjadi lokasi kerusuhan paling parah sejak unjuk rasa digelar di Baghdad pada 1 Oktober. Demonstran membakar konsulat Iran di kota Najaf pada Rabu (27/11) hingga semakin memicu kerusuhan.



Parlemen belum mengesahkan pengunduran diri Abdul Mahdi. Parlemen akan menggelar sidang pada Minggu (1/12) untuk menggelar voting mosi tidak percaya terhadap Abdul Mahdi.

Meski demikian, janji pengunduran diri Abdul Mahdi tidak memuaskan demonstran yang tetap menginginkan perubahan sistem politik yang dianggap korup dan membuat warga tetap miskin serta tanpa masa depan yang lebih baik.

Banyak warga Irak khawatir kekerasan akan berlanjut karena ratusan keluarga marah dengan kerabatnya yang tewas saat unjuk rasa. Di sisi lain, pemerintah dianggap lambat dalam menerapkan reformasi di berbagai bidang.

Krisis politik diperkirakan terus berlangsung beberapa pekan sebelum pengganti Abdul Mahdi dipilih dan pemerintahan baru dibentuk.

"Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan demonstran harus diadili dan kami akan mengumpulkan bukti untuk pengadilan," papar Komisi Hak Asasi Manusia Irak.
(sfn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak