alexametrics

408 Orang Tewas, Ulama Irak Desak Parlemen Tak Dukung Pemerintah

loading...
408 Orang Tewas, Ulama Irak Desak Parlemen Tak Dukung Pemerintah
Seseorang menunjukkan selongsong peluru tajam yang diduga digunakan untuk menyerang demonstran di Najaf, Irak, 29 November. Foto/REUTERS/Alaa al-Marjani
A+ A-
BAGHDAD - Ulama Irak Grand Ayatollah Ali al-Sistani mengecam serangan terhadap para demonstran dan mendesak parlemen mempertimbangkan ulang dukungan pada pemerintah. Pernyataan Sistani menunjukkan sejumlah pihak menginginkan perubahan kepemimpinan di negara itu.

Sistani melontarkan sikapnya itu setelah hari paling berdarah selama beberapa pekan unjuk rasa anti-pemerintah yang menewaskan ratusan demonstran. Kerusuhan juga terjadi di sejumlah wilayah di selatan Irak. Total 408 orang tewas selama unjuk rasa di Irak.

"Pemerintah tampaknya tak dapat mengatasi berbagai kejadian dalam dua bulan terakhir. Parlemen, yang memunculkan pemerintahan sekarang, harus mempertimbangkan ulang pilihannya dan melakukan apa yang menjadi kepentingan Irak," ungkap juru bicara Sistani dalam pidato di televisi.



Sistani menyatakan serangan terhadap demonstran damai itu dilarang. Dia juga meminta pengunjuk rasa tidak melakukan kekerasan. Himbauan itu muncul setelah demonstran membakar konsulat Iran di kota Najaf.

"Demonstran jangan membiarkan unjuk rasa damai berubah menjadi serangan pada properti atau orang," kata Sistani, dilansir Reuters.

Pembakaran konsulat Iran di Najaf pada Rabu (27/11) memicu eskalasi kekerasan di Irak. Pada Kamis (28/11), pasukan keamanan menembak mati 46 orang di kota Nassiriya, 12 orang di Najaf dan empat orang di Baghdad sehingga total korban tewas mencapai 408 orang yang sebagian besar demonstran tak bersenjata.

Jumlah korban tewas itu dikumpulkan Reuters berdasarkan data dari petugas medis dan sumber kepolisian. Bentrok juga terjadi pada Jumat (29/11) di Nassiriya dan melukai beberapa orang.
(sfn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak