alexametrics

Milisi IRGC: Perang Prakarsa AS Melawan Iran Gagal, Amerika Jadi Gila

loading...
Milisi IRGC: Perang Prakarsa AS Melawan Iran Gagal, Amerika Jadi Gila
Polisi antihuru-hara mencoba membubarkan demonstran ketika protes menentang kenaikan harga BBM di Teheran, Iran, 16 November 2019. Foto/Nazanin Tabatabaee/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS
A+ A-
TEHERAN - Seorang petinggi kelompok milisi cabang Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan "perang dunia" melawan Teheran yang diprakarsai oleh Amerika Serikat (AS) telah gagal. Menurutnya, protes besar baru-baru ini atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan plot yang dihasut oleh Washington dan sekutunya.

"Perang dunia penuh melawan sistem dan revolusi lahir dan, untungnya, anak itu meninggal pada saat kelahiran," kata Brigadir Jenderal Salar Abnoosh, seorang wakil kepala milisi Basij, salah satu dari lima kekuatan IRGC, seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu (23/11/2019).

Komandan itu menuduh "koalisi kejahatan" yang terdiri dari Amerika Serikat, Arab Saudi dan Israel, berada di belakang demo rusuh selama beberapa hari di Republik Islam Iran.



IRCG mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa protes telah pecah di sekitar 100 kota di Iran setelah pemerintah menaikkan harga BBM. "Sebagai hasil dari wawasan dan tindakan tepat waktu militer, kerusuhan berakhir dalam waktu kurang dari 24 jam dan di beberapa kota dalam 72 jam," klaim IRGC.

Wakil komandan IRCG, Brigadir Jenderal Ali Fadavi, mengatakan bahwa Washington telah "menjadi gila" karena fakta bahwa Iran telah kembali normal dan tidak ada lagi kekacauan di jalanan.

Beberapa jam sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo telah meminta pengunjuk rasa pemberani Iran untuk berbagi video dan foto-foto yang mengungkap pelanggaran oleh penegak hukum Iran dan personel militer. Dia mengatakan materi itu akan digunakan untuk memberi sanksi terhadap Iran atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Teheran telah mencemooh pernyataan dukungan Washington untuk para pengunjuk rasa, dengan menekankan bahwa sanksi AS telah melarang pengiriman makanan dan obat-obatan untuk orang tua dan pasien.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak