alexametrics

China Ingatkan AS dan Inggris Berhenti Campuri Masalah Hong Kong

loading...
China Ingatkan AS dan Inggris Berhenti Campuri Masalah Hong Kong
Duta Besar (Dubes) China untuk Inggris Liu Xiaoming berbicara di London, Inggris. Foto/REUTERS/Simon Dawson
A+ A-
LONDON - Duta Besar (Dubes) China untuk Inggris Liu Xiaoming menyatakan pada negara-negara asing, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, agar berhenti ikut campur masalah internal Hong Kong.

Pernyataan Liu itu muncul seiring berlanjutnya bentrok antara demonstran dan kepolisian Hong Kong.

"Beberapa negara Barat secara terbuka mendukung para pelaku kekerasan ekstrem, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS mengadopsi Akta Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong untuk secara terang-terangan intervensi dalam masalah Hong Kong, yang merupakan masalah internal China," tegas Liu pada para jurnalis.



Dia menambahkan, "Pemerintah Inggris dan komite urusan luar negeri Parlemen merilis laporan terkait China yang menjadi pernyataan tak bertanggung jawab tentang Hong Kong. Yang paling buruk jelas para politisi Inggris yang berencana memberikan penghargaan pada kepala propaganda untuk kemerdekaan Hong Kong."

Kepolisian Hong Kong mengepung satu universitas pada Senin (18/11), menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk melawan demonstran yang bersenjata bom molotov dan senjata lainnya. Kepolisian berupaya mencegah para demonstran lari dari kampus tersebut sehingga dikhawatirkan terjadi pertumpahan darah.

Inggris menyatakan sangat khawatir dengan kekerasan di kedua pihak di sejumlah universitas Hong Kong. London menyerukan agar para demonstran dapat keluar dari kampus secara aman.

"Kami masih sangat khawatir dengan situasi di Hong Kong dan eskalasi kekerasan antara demonstran dan kepolisian. Kami terus mendorong semua pihak tenang dan menahan diri serta mendukung hak untuk protes secara damai," papar juru bicara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dilansir Reuters.
(sfn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak