alexametrics

Erdogan Tolak Desakan Trump Singkirkan Sistem Rudal S-400 Rusia

loading...
Erdogan Tolak Desakan Trump Singkirkan Sistem Rudal S-400 Rusia
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto/REUTERS/Osman Orsal
A+ A-
ANKARA - Presiden Turki Tayyip Erdogan menolak desakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyingkirkan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia yang telah dibeli Ankara. Menurutnya, saran seperti itu tidak benar dan merupakan pelanggaran hak kedaulatan.

Dalam pertemuan di Gedung Putih hari Rabu, Trump mendesak Erdogan untuk menyingkirkan sistem S-400 Rusia yang mulai tiba di Turki pada bulan Juli meskipun ada ancaman sanksi dari Washington.

Ditanya setelah pertemuan itu apakah Turki akan mempertimbangkan desakan Washington untuk tidak mengaktifkan S-400, Erdogan mengatakan kepada wartawan bahwa Ankara tidak dapat merusak hubungannya dengan Rusia. Dia juga sekali lagi mengulurkan opsi untuk membeli sistem pertahanan Patriot AS.



"Kami mengatakan; 'Kami melihat proposal untuk menyingkirkan S-400 sepenuhnya saat membeli Patriot sebagai pelanggaran hak kedaulatan kami dan tentu saja tidak benar'," katanya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/11/2019).

"Ini adalah elemen yang paling mengikat; kami memiliki beberapa upaya strategis dengan Rusia," lanjut Erdogan. Dia menambahkan bahwa pipa gas alam Turkstream yang dimulai di Rusia dan berjalan melalui Turki akan mulai mengirimkan gas ke Eropa.

“Saya tidak bisa meninggalkan S-400 karena (sistem) Patriot sekarang. Jika Anda ingin memberi kami Patriot, berikanlah itu," kata Erdogan. (Baca: AS Marah, Tekan Turki Singkirkan Sistem Rudal S-400 Rusia)

Berkat hubungan baik yang baik antara kedua presiden, Turki sejauh ini terhindar dari sanksi AS meski telah membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Tetapi Amerika Serikat telah melarang penjualan jet tempur siluman F-35 ke Ankara dan mencoretnya dari keikutsertaan program multinasional untuk memproduksi pesawat tempur generasi kelima tersebut.

Erdogan mengakui telah melihat pendekatan yang jauh lebih positif untuk masalah F-35 ketika itu dilakukan Trump.

Berbeda dengan sambutan hangat yang diterima Erdogan dari Trump, lima senator Partai Republik dalam sebuah pertemuan pada hari Rabu mempertanyakan motif Ankara membeli senjata Rusia.

"Para Senator menjelaskan kepada Erdogan bahwa meskipun mereka ingin tetap menjadi sekutu Turki, Ankara tidak bisa membeli sistem rudal Rusia ini dan mengharapkan tidak ada yang terjadi sebagai konsekuensinya," kata sumber Kongres yang diberi pengarahan pada pertemuan itu.

Sasaran utama pertemuan itu, lanjut sumber, adalah membahas pembelian senjata Rusia oleh Ankara. Tetapi sesi itu berlangsung lebih dari satu jam dan termasuk diskusi tentang Suriah. Menurut sumber tersebut, Trump memberi Senator kebebasan untuk mengajukan pertanyaan setelah membuat beberapa pernyataan untuk memulai pertemuan.

Erdogan sendiri menunjukkan video pada Ipad selama pertemuan, dan merinci permusuhan milisi Kurdi. Erdogan mengatakan Trump tampak "tergerak" sambil menonton rekaman.

Kongres AS telah bersatu dalam kemarahannya terhadap Turki, yang semakin dalam setelah invasi Ankara sejak 9 Oktober ke Suriah untuk mengusir milisi Kurdi, mitra utama Washington dalam perang melawan kelompok Islamic Satate of Iraq and Levant/Syria (ISIL/ISIS).

Bulan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat atau Kongres AS memilih mendukung resolusi yang tidak mengikat yang mengakui pembunuhan 1,5 juta warga Armenia beberapa abad lalu sebagai genosida yang dilakukan pasukan Turki. Pengakuan itu membuat Ankara maraha.

Namun, pada hari Rabu, Senator Lindsay Graham—sekutu Presiden Trump dan kritikus Turki yang juga hadir dalam pertemuan itu, memblokir resolusi tersebut di lantai Senat.

"Keberatan saya bukan pada sejarah mantel gula atau mencoba menulis ulang," kata Graham. "Saya benar-benar berharap Turki dan Armenia dapat bersatu dan menangani masalah ini," katanya lagi, seraya menambahkan bahwa dia baru saja bertemu dengan Erdogan dan Trump.
(mas)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak