alexametrics

Bertemu Trump, Erdogan Tunjukkan Film Propaganda tentang Kurdi

loading...
Bertemu Trump, Erdogan Tunjukkan Film Propaganda tentang Kurdi
Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan menunjukkan film propaganda tentang Kurdi kepada Presiden AS Donald Trump. Foto/CBC
A+ A-
WASHINGTON - Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan dilaporan menunjukkan film propaganda terkait Kurdi selama pertemaun di Gedung Putih. Menggunakan iPad, Erdogan memperlihatkan film itu kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sekelompok senator Partai Republik.

Mengutip tiga sumber tak dikenal yang mengetahui pertemuan tersebut, Axios melaporkan, Erdogan menampilkan film itu ketika ia bertemu dengan anggota parlemen yang terang-terangan menentang invasi Turki baru-baru ini di Suriah utara. Film ini dilaporkan menggambarkan pasukan YPG Kurdi, yang memimpin Pasukan Demokrat Suriah (SDF), dan PKK (Partai Pekerja Kurdistan) sebagai teroris.

Para senator dalam pertemuan Oval Office tidak yakin dengan film tersebut. Banyak dari mereka dilaporkan bergiliran menentang narasi yang coba disajikan oleh film tersebut.



"Apakah kamu ingin saya pergi menemui orang-orang Kurdi untuk membuat satu (pernyataan) tentang apa yang telah kamu lakukan?" kata Senator Lindsey Graham setelah film berakhir seperti dilaporkan Axios yang dinukil The Hill, Kamis (14/11/2019).

Axios mencatat bahwa Graham terlibat pertikaian sengit dengan Erdogan terkait invasi militer Turki di Suriah. Erdogan dilaporkan mempermasalahkan penggunaan istilah "invasi" oleh Graham. Graham menyerang balik terhadap klaim Erdogan bahwa negara it utelah berkontribusi terhadap perang melawan ISIS.

Grahan sendiri mengkofirmasi hal itu, dengan mengatakan ia dengan paksa menolak narasi Turki bahwa mereka telah berbuat lebih banyak untuk menghancurkan ISIS.

"Saya memberi tahu Turki bahwa 10.000 pejuang SDF, sebagian besar suku Kurdi, menderita, meninggal atau cedera, dalam perang melawan ISIS, dan Amerika tidak akan melupakan itu dan tidak akan meninggalkan mereka," kata Graham.

Sementara Graham menyatakan bahwa AS tidak akan meninggalkan Kurdi, Trump mengatakan bahwa serangan Turki di Suriah tidak ada hubungannya dengan AS. Ia juga sebelumnya meremehkan aliansi AS dengan kelompok Kurdi. Pada pertengahan Oktober lalu, Trump sempat mengatakan Kurdi bukanlah malaikat.

Sementara itu seorang pejabat senior pemerintah mengatakan kepada Axios bahwa kelompok senator yang diundang ke pertemuan Oval Office termasuk Partai Republik yang telah menyuarakan masalah dengan pembelian sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia milik Turki.

Setiap senator di ruangan itu dilaporkan setuju bahwa AS tidak akan menjual jet tempur F-35 ke Ankara jika terus mengerahkan atau membeli sistem rudal buatan Rusia itu.

Undang-undang AS memandatkan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan industri pertahanan Rusia. Trump sendiri belum mengumumkan sanksi atas pembelian S-400 oleh Turki.

Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar dari The Hill.

Trump telah menghadapi pengawasan bipartisan besar sejak ia bulan lalu tiba-tiba mengumumkan akan memindahkan sekitar 1.000 tentara dari Suriah utara sebelum invasi yang direncanakan Turki. Pasukan AS yang dikerahkan di wilayah tersebut telah bekerja sama dengan YPG Kurdi.

Turki menganggap pasukan pimpinan Kurdi, yang telah terbukti sebagai sekutu paling efektif AS dalam perangnya melawan ISIS, sebagai teroris.

Selama konferensi pers bersama Erdogan, Trump mengatakan bahwa keputusan pemerintah untuk meninggalkan beberapa pasukan AS di Suriah adalah "hanya untuk minyak."
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak