alexametrics

Kebakaran Hebat Landa Australia, WNI Diimbau Waspada

loading...
Kebakaran Hebat Landa Australia, WNI Diimbau Waspada
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengimbau kepada WNI yang berada di Australia, khususnya di bagian timur negara itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Foto/Reuters
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Indonesia mengimbau kepada warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Australia, khususnya di bagian timur negara itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini datang setelah terjadinya kebakaran besar yang melanda wilayah itu.

Kebakaran hutan besar telah melanda sejumlah wilayah di Australia Timur sejak pekan lalu. Tiga orang dilaporkan tewas dan lebih dari 150 rumah. Lebih dari 100 titik kebakaran masih terjadi di New South Wales dan Queensland hingga saat ini. Api diperkirakan masih akan berkobar hingga beberapa hari ke depan.

"Kami mengimbau Anda yang berada di sekitar lokasi terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari titik lokasi kebakaran, dan mengikuti imbauan otoritas setempat seperti Fire and Resque NSW (fire.nswgov.au) dan Queensland Fire and Emergency Services (qfes.qld.gov.au)," bunyi imbauan Kementerian Luar Negeri Indonesia.



"Apabila Anda memerlukan bantuan, hubungi hotline KJRI Sydney di nomor 0423 760 106 atau melalui Tombol Darurat aplikasi Safe Travel Kementerian Luar Negeri RI. Anda juga dapat menghubungi nomor 000 untuk fire emergency dan nomor 1800 679 737 untuk Bush Fire Information Line," sambungnya, seperti dikutip Sindonews pada Selasa (12/11/2019).

Sementara itu, sebelumnya New South Wales dan Queensland telah mengumumkan keadaan darurat, paska terus meluasnya kebakaran hutan.

Otoritas pemadam kebakaran New South Wales telah mengeluarkan tingkat maksimum peringatan kebakaran untuk pertama kalinya sejak peringatan mulai diperkenalkan satu dekade lalu. Status itu dikeluarkan setelah bencana mematikan "Black Saturday" di Australia.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak