alexametrics

Lavrov: Aksi AS Rampok Minyak Suriah Ganggu Upaya Damai

loading...
Lavrov: Aksi AS Rampok Minyak Suriah Ganggu Upaya Damai
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyebut aksi Amerika Serikat (AS) merampok minyak Suriah mengganggu upaya damai di negara tersebut. Foto/Reuters
A+ A-
MOSKOW - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyebut aksi Amerika Serikat (AS) merampok minyak Suriah mengganggu upaya damai di negara tersebut. Ini adalah kecaman terbaru Rusia atas keputusan AS untuk menduduki ladang minyak di Suriah.

Lavrov menuturkan, Rusia akan menegaskan bahwa tentara Suriah harus mengambil kendali atas seluruh wilayah negara itu sesegera mungkin, karena ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan proses politik dan menghilangkan terorisme.

"Kami akan bersikeras bahwa tentara Suriah menduduki seluruh wilayah negaranya secepat mungkin. Hanya ini yang akan membantu mengakhiri terorisme dan menyelesaikan semua masalah dengan penyelesaian politik akhir," ucap Lavrov.



Seperti dilansir Sputnik pada Selasa (11/11/2019), Lavrov kemudian menekankan bahwa upaya Washington untuk mencuri minyak Suriah merusak proses politik di negara tersebut.

"Adapun apa yang dilakukan Amerika Serikat di utara Suriah. Tentu saja, upayanya untuk, pada kenyataannya merampok Suriah dan mengambil kendali atas ladang minyaknya adalah ilegal, dan itu tidak membawa apa pun yang baik bagi pemukiman Suriah, ia hanya mempertahankan sumber keprihatinan yang signifikan dan ancaman signifikan di bagian Suriah ini," ungkapnya.

Sementara itu, sebelumnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad mengatakan, pernyataan AS soal minyak Suriah hanyalah upaya Washington untuk jujur. Assad mengatakan, sedari awal ISIS muncul, AS adalah salah satu pelanggan minyak ilegal kelompok tersebut.

"Jadi, apa yang dilakukan Donald Trump hanyalah mengumumkan kebenaran; dia tidak berbicara tentang sesuatu yang baru. Bahkan, ketika beberapa orang Kurdi mulai menjarah minyak Suriah, Amerika tetap menjadi mitra mereka. Jadi, ini tentang uang, dan ini tentang minyak, dan itulah yang dikatakan Trump baru-baru ini," ucapnya.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak