alexametrics

Amnesty Desak Penghentian Demonstrasi Berdarah di Irak

loading...
Amnesty Desak Penghentian Demonstrasi Berdarah di Irak
Amnesty International menyerukan pihak berwenang Irak untuk segera mengendalikan pasukan keamanan dalam menghadapi demonstran. Foto/Reuters
A+ A-
LONDON -

Amnesty International menyerukan pihak berwenang Irak untuk segera mengendalikan pasukan keamanan dalam menghadapi demonstran. Seruan ini datang di tengah meningkatnya korban tewas dalam demonstrasi yang terjadi di Irak.

Dalam sebuah pernyataan, Amnesty International mengatakan, ratusan demonstran tewas di seluruh Irak hanya dalam sebulan. Kelompok yang berbasis di London, Inggris tersebut menyebutkan hal ini sebagai pertumpahan darah.



"Meminta pihak berwenang untuk mengakhiri penggunaan kekuatan mematikan yang melanggar hukum dan mereka yang bertanggung jawab untuk itu harus dibawa ke pengadilan," kata Amnesty International, seperti dilansir Al Arabiya pada Minggu (10/11/2019).

Sebelumnya, Komisi Tinggi Independen untuk Hak Asasi Manusia Irak (IHCR) menuturkan, sebanyak 301 orang tewas dalam aksi demonstrasi anti pemerintah yang mengguncang Irak. Sementara itu hampir 15 ribu orang terluka sejak dimulainya aksi protes itu pada bulan Oktober lalu.

"Jumlah korban tewas yang tinggi ini termasuk dua orang yang tewas pada Jumat lalu di kota Basra selatan selama aksi protes dengan kekekarasan," kata IHCR. Basra adalah kota kaya minyak yang terletak sekitar 450 kilometer sebelah selatan ibukota Irak, Baghdad.

Seratus orang lainnya terluka di Basra ketika pasukan keamanan Irak menggunakan gas air mata dan peluru tajam untuk meredam aksi demonstrasi.

Protes meletus di Baghdad dan di beberapa provinsi Syiah di selatan karena tingginya angka pengangguran, korupsi pemerintah, dan kurangnya kebutuhan dasar - seperti listrik dan air bersih.

Banyak warga Irak menyalahkan partai-partai politik yang saat ini berkuasa atas kesulitan ekonomi mereka alami dan skala protes saat ini, yang diyakini sebagai yang terbesar sejak jatuhnya mantan Presiden Irak Saddam Hussein pada 2003, mengejutkan pemerintah.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak