Aktivis Inggris Pro-Palestina Diadili Gara-gara Bawa Plakat Gambar Kelapa

Sabtu, 14 September 2024 - 11:30 WIB
loading...
Aktivis Inggris Pro-Palestina...
Marieha Hussain membawa plakat yang menggambarkan Perdana Menteri Rishi Sunak dan Menteri Dalam Negeri saat itu Suella Braverman sebagai kelapa di London pada 11 November. Foto/Kepolisian Metropolitan
A A A
LONDON - Aktivis perdamaian Marieha Hussain didakwa atas kejahatan kebencian setelah membawa plakat satir yang menggambarkan Perdana Menteri Inggris saat itu Rishi Sunak dan Menteri Dalam Negerinya, Suella Braverman, sebagai kelapa. Hussain kemudian dinyatakan tidak bersalah.

Guru berusia 37 tahun itu membantah tuduhan tersebut di pengadilan pada Jumat (13/9/2024), dengan pembelaannya mengatakan plakat yang dibawanya selama protes pro-Palestina pada November bersifat satir dan lucu, bukan rasis.

Jaksa Penuntut, Jonathan Bryan, berpendapat plakat itu menunjukkan seseorang berkulit cokelat di luar tetapi berkulit putih di dalam. "Dengan kata lain, Anda pengkhianat ras, Anda tidak berkulit cokelat atau hitam seperti yang seharusnya," ujar dia.

Pembela Hussain menggambarkan keputusan mengajukan kasus ke pengadilan sebagai serangan yang mengganggu terhadap hak atas kebebasan berekspresi dan protes damai.

Pengacaranya, Rajiv Menon KC, mengatakan, “Marieha Hussain dari semua orang dituntut atas pelanggaran rasial, sementara orang-orang seperti Suella Braverman dan Nigel Farage dan Stephen Yaxley-Lennon alias Tommy Robinson dan Frank Hester tampaknya bebas membuat pernyataan yang menghasut dan memecah belah … saya khawatir, tidak dapat dipahami oleh banyak orang.”

Braverman sebelumnya menyebut protes pro-Palestina sebagai “pawai kebencian” dan rekan-rekan Tory telah memperingatkan komentarnya tentang kapal migran dan geng-geng “membuat kaum rasis semakin berani”.

Setelah persidangan dua hari, hakim memutuskan, “Plakat itu adalah bagian dari genre satir politik.”

Mengomentari keputusan tersebut, Cage International mengatakan, “Cobaan berat Marieha menyoroti metode jahat yang digunakan negara Inggris untuk membungkam dan mengintimidasi kebebasan berbicara warganya sendiri, untuk melindungi perang genosida negara asing. Marieha mengalami pelecehan selama berbulan-bulan, termasuk wawancara polisi yang kasar, kunjungan polisi larut malam, dan kampanye kotor di media yang menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya dan memindahkan keluarganya untuk sementara waktu demi keselamatan.”

“Meskipun ini merupakan hasil yang positif, kasus Marieha tetap menjadi pengingat nyata akan ketidakadilan yang terus terjadi yang dihadapi banyak orang saat menentang keterlibatan Inggris dalam genosida di Gaza,” tegas Cage International.

Israel telah membunuh 41.118 warga Palestina di Gaza. Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.

Inggris menjadi salah satu pemasok senjata Israel yang digunakan untuk membantai warga Palestina di Gaza.

Baca juga: Bos Hamas Yahya Sinwar Surati Nasrallah, Ucapkan Terima Kasih pada Hizbullah
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Menahan Mufti...
Israel Menahan Mufti Agung Yerusalem, Melarangnya Masuk Masjid Al-Aqsa Selama 1 Pekan
Setelah Warga Palestina...
Setelah Warga Palestina Diusir, Israel Robohkan Sekolah di Dusun Tepi Barat
Israel Minta Lampu Hijau...
Israel Minta Lampu Hijau AS untuk Serang Iran
Rencana Volkswagen Buat...
Rencana Volkswagen Buat Rudal dengan Rafael Israel Dihalangi Para Investor Qatar
Juru Bicara Hamas Lolos...
Juru Bicara Hamas Lolos dari Serangan Israel, Warga Sipil Tewas Dirudal Zionis di Kota Gaza
Abbas Tetapkan 28 November...
Abbas Tetapkan 28 November untuk Pemilu Legislatif Palestina Pertama dalam Lebih dari 20 Tahun
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
IRGC Tuduh AS Serang...
IRGC Tuduh AS Serang Infrastruktur Iran, Tiga Orang Tewas dalam Serangan di Ahvaz
Netizen Heboh! Trump...
Netizen Heboh! Trump Disambut Karpet Biru, bukan Merah di Turki
Rekomendasi
Breaking News: Jampidsus...
Breaking News: Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri
Jampidsus Febrie Adriansyah...
Jampidsus Febrie Adriansyah Ucapkan 6 Pernyataan sebelum Resmi Mundur dari Jabatan
Norwegia vs Inggris:...
Norwegia vs Inggris: Haaland Tagih Janji Rooney Mendayung di Sungai Mersey
Berita Terkini
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
Iran Tegaskan Siap untuk...
Iran Tegaskan Siap untuk Pertahanan Skala Penuh, Trump Sebut Gencatan Senjata Berakhir
Bicara dengan Presiden...
Bicara dengan Presiden Iran, PM Pakistan Desak AS dan Iran Komitmen pada Pakta Perdamaian
Israel Menahan Mufti...
Israel Menahan Mufti Agung Yerusalem, Melarangnya Masuk Masjid Al-Aqsa Selama 1 Pekan
Trump Klaim Iran Minta...
Trump Klaim Iran Minta Lanjutkan Pembicaraan dan AS Setuju
Setelah Warga Palestina...
Setelah Warga Palestina Diusir, Israel Robohkan Sekolah di Dusun Tepi Barat
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved