alexametrics

Netanyahu: Pemerintahan yang Bergantung pada Arab Bahayakan Israel

loading...
Netanyahu: Pemerintahan yang Bergantung pada Arab Bahayakan Israel
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah memperingatkan bahwa mendirikan pemerintahan yang mengandalkan kelompok Arab membahayakan keamanan Israel. Foto/Reuters
A+ A-
TEL AVIV - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah memperingatkan bahwa mendirikan pemerintahan Israel yang mengandalkan kelompok Arab membahayakan keamanan Israel. Peringatan itu disampaikan setelah Benny Gantz, pemimpin Partai Biru dan Putih, menginginkan adanya pemerintahan yang turut melibatkan minoritas Arab.

Menurut Netanyahu, Gantz dan pemimpin Yisrael Beytenu, Avigdor Liberman menolak untuk berkomitmen bahwa mereka tidak akan membentuk pemerintahan minoritas yang akan mendukung para anggota Daftar Bersama.

"Bagaimana Israel dapat bertindak terhadap Iran dan Hizbullah, ketika ada anggota Parlemen yang mendukung Hizbullah, yang dapat menjatuhkan pemerintah," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan.



"Membangun pemerintahan minoritas yang bersandar pada Daftar Bersama adalah langkah anti-Zionis yang membahayakan keamanan kita," sambungnya, seperti dilansir Anadolu Agency pada Minggu (10/20/2019).

Komentar Netanyahu datang kurang dari seminggu sebelum berakhirnya mandat presiden yang diberikan kepadanya oleh Presiden Israel, Reuven Rivlin untuk membentuk pemerintahan baru.

Seperti diketahui, Netanyahu sendiri kalah tipis dari Gantz dalam pemilihan Israel beberapa waku lalu. Namun, karena tidak adanya yang mendapatkan suara mayoritas, Gantz harus membentuk koalisi untuk dapat membentuk pemerintahan Israel.

Sejumlah politisi Israel menyerukan Gantz untuk membentuk pemerintah bersama dengan Netanyahu. Namun, Gantz tampaknya lebih memilih untuk membentuk pemerintahan yang merangkul partai-partai minoritas yang tergabung dalam Daftar Bersama, termasuk partai yang didominasi Arab-Israel.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak