alexametrics

Suriah Sebut Gencatan Senjata AS-Turki Tidak Jelas

loading...
Suriah Sebut Gencatan Senjata AS-Turki Tidak Jelas
Penasihat Politik dan Media Presiden Suriah Bashar Al-Assad, Bouthaina Shaaban menyinggung perjanjian gencatan senjata antara AS dan Turki di utara Suriah. Foto/Reuters
A+ A-
DAMASKUS - Penasihat Politik dan Media Presiden Suriah Bashar Al-Assad, Bouthaina Shaaban menyinggung perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Turki di utara Suriah. Shaaban menyebut gencatan senjata tersebut tidak jelas.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan negosiasi dengan Wakil Presiden AS, Mike Pence di Ankara yang berlangsung lebih dari 4 jam. Para pihak kemudian sepakat untuk menunda operasi Turki di Suriah selama 120 jam untuk memfasilitasi penarikan milisi Kurdi Suriah ke zona aman, sekitar 30 kilometer dari perbatasan dengan Turki.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi Al-Mayadeen, Shaaban mengatakan tidak ada yang disebut "zona aman", karena itu merupakan wilayah Suriah yang diduduki oleh Turki.



"Erdogan adalah penjajah tanah kami dan dia adalah agresor terhadap negara kami. Kami berurusan dengan kehadiran apasukan sing ilegal di negara kami sebagai pendudukan," ucap Shaaban, seperti dilansir Xinhua pada Jumat (18/10/2019).

Ditanya apakah Rusia sedang menengahi hubungan baru antara Suriah dan Turki yang telah menjadi pendukung setia pemberontak Suriah, Shaaban mengesampingkan kemungkinan seperti itu, dengan mengatakan tidak ada mediasi Rusia antara pemerintah Suriah dan Turki.

Sementara itu, Shaaban mengatakan koordinasi antara pemerintah Suriah dan Rusia serta Iran sedang berlangsung setiap hari. "Ada kepercayaan penuh di antara kami," ungkapnya.

Mengenai kesepakatan baru-baru ini antara pemerintah Suriah dan pasukan Kurdi, tentang masuknya tentara Suriah ke daerah-daerah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara dan timur laut, dia mengatakan hal itu sebagai langkah penting.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak