alexametrics

Setelah Norwegia, Giliran Jerman Setop Penjualan Senjata ke Turki

loading...
Setelah Norwegia, Giliran Jerman Setop Penjualan Senjata ke Turki
Jerman melarang ekspor senjata ke Turki atas serangannya terhadap milisi YPG Kurdi di Suriah. Foto/Istimewa
A+ A-
BERLIN - Aksi menentang operasi militer Turki ke Suriah tidak hanya sebatas mengecam, namun kini telah berubah menjadi tindakan nyata. Setelah Norwegia menghentikan penjualan senjata ke Turki, langkah yang sama ditempuh oleh Jerman.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan negera itu telah melarang ekspor senjata ke Turki atas serangannya terhadap milisi YPG Kurdi di Suriah.

"Terhadap latar belakang serangan militer Turki, Pemerintah Federal (Jerman) tidak akan mengeluarkan izin baru untuk semua peralatan militer yang dapat digunakan oleh Turki di Suriah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengutip Menteri Luar Negeri Heiko Maas seperti dikutip dari Reuters, Minggu (13/10/2019).



Komentar itu mengkonfirmasi laporan dalam mingguan Bild Am Sonntag. Menurut Bild Am Sonntag, Jerman mengekspor senjata senilai USD268 juta ke Turki pada 2018, terhitung hampir sepertiga dari ekspor senjata.

Surat kabar itu melaporkan dalam empat bulan pertama 2019, Turki menerima senjata dari Jerman senilai USD203 juta, menjadikannya negara penerima terbesar.

Norwegia dan Finlandi sebelumnya telah menghentian penjualan senjata ke Turki dengan alasan yang sama . Norwegia bahkan akan meninjau semua lisensi untuk ekspor senjata yang telah dikeluarkan. (Baca juga: Turki Invasi Suriah, Norwegia Hentikan Penjualan Senjata)

Turki meluncurkan operasi militer pada hari Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik beberapa pasukan yang telah mendukung pasukan Kurdi dalam perang melawan Negara Islam (IS atau ISIS).

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah memperingatkan Turki tentang kemungkinan sanksi atas serangan itu.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak