alexametrics

Fakta-fakta Unik Habibie, Termasuk Teori Ekonomi Aneh Penyelamat RI

loading...
Fakta-fakta Unik Habibie, Termasuk Teori Ekonomi Aneh Penyelamat RI
Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, wafat di usia 83 tahun pada hari Rabu (11/9/2019). Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Indonesia kehilangan negarawan genius Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie yang wafat di usia 83 tahun pada hari Rabu (11/9/2019). Dunia menyoroti jejaknya yang luar biasa, tak hanya sebagai arsitek pesawat terbang tapi juga pengadopsi teori ekonomi aneh tahun 1990-an.

SINDOnews.com merangkum sederet fakta unik dari sosok presiden ketiga Republik Indonesia ini. Berikut ringkasannya;

1. Adopsi Teori Ekonomi Aneh



BJ Habibie kepergiannya diratapi publik Indonesia dengan sapaan "Eyang" dan "Bapak" tersebut pernah dikenal sebagai pengadopsi teori-teori ekonomi yang aneh. Saat masuk pemerintahan rezim Soeharto, banyak pihak yang meremehkan dan bahkan mencibirnya. Dia tidak dipercaya oleh kalangan pelajar, militer, dan investor asing.

Ketika rezim Soeharto gonjang-ganjing, sebagian besar pengamat ragu sosok Habibie bisa mempertahankan kekuasaannya karena beberapa alasan. Reputasinya pada "belanja yang liar" terjadi pada saat ekonomi Indonesia terpuruk dan membutuhkan dana talangan. Mata uang Indonesia anjlok sebesar 36 persen ketika Habibie menjabat.

"Masalah-masalah Indonesia begitu sulit untuk dipecahkan sehingga bahkan politisi yang luar biasa pandai yang didukung oleh dukungan publik yang luar biasa akan merasa mudah untuk mengambil alih," tulis majalah TIME.

"Dan Habibie...tampaknya kandidat yang paling tidak mungkin. Dia tidak memiliki basis politik, dan dia juga tidak bisa mengandalkan dukungan jangka panjang dari militer yang kuat. Ekonom dan analis saham di seluruh Asia mempertanyakan kemampuan Habibie untuk membawa perubahan yang masuk akal ke ekonomi Indonesia yang tersedak...," lanjut usalan TIME.

Banyak investor asing yang menganggap kepresidenan Habibie menakutkan. Salah satu alasannya adalah advokasi Habibie tentang "teori zig-zag", sebuah teori ekonomi yang aneh. Habibie percaya bahwa memotong suku bunga, kemudian menggandakannya, lalu memangkasnya lagi, akan mengurangi inflasi.

Para kritikus mencemooh kemampuannya. "Dia adalah badut, pelawak, penghibur," kata Jusuf Wanandi, direktur Pusat Studi Strategis dan Internasional di Jakarta dalam usalan biografi Habibie di situs web biography.yourdictionary.com.

Saat krisis keuangan tahun 1998, nilai mata uang Rupiah terpuruk di angka Rp17.000 per USD (dollar Amerika Serikat). Habibie dengan pendekatan ekonomi yang unik saat itu mampu membuat Rupiah merangkak naik hingga Rp6.500 per USD.

2. Penganggum Soeharto dengan Sebutan SGS (Super-Genius Soeharto)


Dua dekade berkarier di perusahaan pembuat pesawat terbang Jerman, Messerschmitt-Boelkow-Blohm, Habibie memutuskan pulang ke Tanah Air atas permintaan Presiden Soeharto. Saat itu, dia diangkat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sebelum akhirnya menjadi Wakil Presiden dan menjadi penerus Soeharto sebagai presiden tahun 1998.

Dia dikenal tokoh setia dan pendukung yang paling bisa diandalkan oleh Soeharto. Semasa hidup, Habibie mengatakan kepada Newsweek bahwa Soeharto adalah "teman dekat". "Yang memperlakukan saya seperti saudaranya sendiri," katanya.

Habibie sering memanggil bekas penguasa Orde Baru itu dengan sebutan "SGS" yang merupakan singkatan dari "Super-Genius Soeharto".

Akhirnya, kebijakan Suharto membawa ekonomi Indonesia ke jurang bencana. Pada bulan Maret 1998, ketika demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sipil meningkat intensitasnya, Suharto mengangkat Habibie sebagai wakil presiden. Ketika ekonomi runtuh, kerusuhan mahasiswa berdarah menyebabkan meningkatnya seruan dari sekutu internasional untuk pengunduran diri Soeharto. Ratusan orang tewas dalam kerusuhan sipil yang akhirnya memaksa Soeharto dari jabatannya pada Mei 1998. Sebelum dia meninggalkan istana kepresidenan, Soeharto mengangkat Habibie sebagai penggantinya.

Kedekatannya dengan Soeharto tak lepas dari riwayat masa lalunya. Ketika masih berusia anak-anak, Habibie adalah bocah yang suka berenang, membaca, bernyanyi, mengendarai kuda pacuan ayahnya, dan membangun model pesawat terbang. Pada 1950, Habibie yang akrab disapa Rudy berusia 13 tahun kehilangan sang ayah karena menderita serangan. Soeharto, yang waktu itu adalah seorang perwira militer muda, hadir di ranjang kematian ayahnya dan menjadi pelindung dan ayah pengganti untuk Habibie.

Dalam sebuah biografi tentang Soeharto, Habibie pernah mengatakan; "Saya menganggapnya sebagai idola, yang dapat menjadi contoh bagi semua orang...seorang komandan brigade yang pendiam, dengan perasaan manusiawi yang hebat, dan semangat juang yang kuat."

Sebaliknya, Soeharto saat itu mengatakan; "Habibie menganggap saya sebagai orang tuanya. Dia selalu meminta bimbingan saya dan mencatat filosofi."

3. Muslim Religius dan Genius dalam Sains


Bacharuddin Jusuf Habibie lahir pada 25 Juni 1936 di kota Pare Pare yang sepi di Sulawesi Selatan. Dia anak keempat dari delapan bersaudara. Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, adalah seorang pejabat pertanian pemerintah yang mempromosikan budidaya cengkeh dan kacang tanah. Kakeknya adalah seorang pemimpin Muslim dan pemilik tanah yang makmur.

Dia muncul sebagai sosok yang genius dalam sains dan matematika. Habibie pernah studi di Institut Teknologi Bandung. Ibunya, RA. Tuti Marini Habibie, mengatur agar dia melanjutkan studinya di Jerman. Di Technische Hochschule of Aachen, Habibie belajar teknik konstruksi pesawat terbang.

Pada tahun 1962, dalam kunjungan pulang ke Indonesia, ia menikah dengan Hasri Ainun Besari, seorang dokter. Pasangan itu dikaruniai dua anak, Ilham Akbar dan Thareq Kemal, keduanya lahir di Jerman.

Setelah lulus dengan gelar doktor dari Institut Aachen pada tahun 1965, Habibie bergabung dengan perusahaan pembuat pesawat Messerschmitt-Boelkow-Bluhm. Kariernya melejit hingga menjadi wakil presiden perusahaan tersebut.

Sebagai ilmuwan riset dan insinyur penerbangan, ia membantu merancang beberapa pesawat, termasuk DO-31, pesawat yang lepas landas secara vertikal. Dia berspesialisasi dalam solusi untuk cracking pesawat sehingga mendapatkan julukan "Mr Crack". Julukan itu mengacu pada sosoknya sebagai salah satu ilmuwan pertama yang menghitung dinamika pada retakan acak. Dia juga terlibat dalam kegiatan pemasaran pesawat internasional dan pertahanan NATO serta pengembangan ekonomi.

4. Tsar Teknologi Indonesia

Pada tahun 1974, Soeharto meminta Habibie untuk pulang ke Indonesia untuk membantu membangun basis industri. Habibie memulai industri konstruksi pesawat terbang dan perusahaan penerbangan negara. Habibie mengeksploitasi hubungan yang telah ia kembangkan di Jerman dan NATO untuk merekayasa berbagai kesepakatan kontroversial yang melibatkan pesawat terbang, kapal, industri berat, dan pembangunan ekonomi.
Sebagai menteri riset dan teknologi, Habibie mempromosikan impor barang dan jasa berteknologi tinggi. Dia suka "melompat-lompat" dari industri berketerampilan rendah dan pindah langsung ke perusahaan teknologi tinggi, menolak pengembangan dasar yang mungkin telah membawa lapangan kerja yang dibutuhkan bagi massa berketerampilan rendah di Indonesia. Habibie menghabiskan miliaran dana publik untuk perusahaan strategisnya. Proyek peliharaannya adalah pesawat terbang nasional, N-250 yang digerakkan baling-baling. Produsernya adalah IPTN. Usaha pesawat terbang nasional ini menghabiskan USD2 miliar.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak