alexametrics

Rusia Berharap Pembicaraan Damai AS-Taliban Dapat Berlanjut

loading...
Rusia Berharap Pembicaraan Damai AS-Taliban Dapat Berlanjut
Rusia berharap pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Taliban hanya tertunda dan bukan sepenuhnya berakhir. Foto/Istimewa
A+ A-
MOSKOW - Rusia berharap pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Taliban hanya tertunda dan bukan sepenuhnya berakhir. Pernyataan ini datang tidak lama setelah Presiden AS, Donald Trump menyebut pembicaraan itu telah mati.

"Kami menyesalkan bahwa prosesnya ditunda. Kami masih berpikir bahwa itu tidak mati, tetapi ditangguhkan. Emosi berjalan tinggi, berlebihan di kedua sisi, tetapi kami percaya bahwa pada suatu titik pihak akan kembali dan terus berbicara dan menyelesaikan kesepakatan," kata Direktur Departemen Asia Kedua Kementerian Luar Negeri Rusia, Zamir Kabulov.

"Moskow melihat perjanjian potensial sebagai langkah penting yang akan membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional dan akibatnya penyelesaian penuh krisis Afghanistan. Jadi, kami berharap itu pada akhirnya akan terjadi," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (10/9).



Sebelumnya, Trump memutuskan mengakhiri pembicaraan damai dengan Taliban, setelah kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan seorang tentara AS.

Berbicara kepada awak media di Gedung Putih, Trump mengatakan dia tidak akan pernah mau berbicara dengan orang-orang yang secara terbuka mengakui telah membunuh orang-orang tidak bersalah dan juga tentara AS.

"Itu (pembicaraan) telah mati, telah mati sejauh yang saya ketahui, mereka sudah mati. Ketika saya mendengar dengan sangat sederhana bahwa mereka membunuh satu dari tentara kita dan 12 orang tidak bersalah lainnya, saya berkata tidak mungkin saya bertemu berdasarkan itu. Tidak mungkin saya bertemu. Mereka melakukan kesalahan," ucap Trump.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak